Beranda / Berita / Nasi Goreng Sebagai Hidangan Lokal Rahasia Dapur Era Kolonial Belanda

Nasi Goreng Sebagai Hidangan Lokal Rahasia Dapur Era Kolonial Belanda

Nasi Goreng menjadi salah satu menu yang berkembang pada era kolonial Hindia-Belanda tidak hanya sebagai bentuk hidangan makanan saat ini, namun juga memberikan peran dalam dunia kuliner di Indonesia, tercatat pada era tahun 1888 yang di muat dalam beberapa buku-buku dasar dan media artikel serta iklan Keberadaan nasi goreng di Hindia Belanda menjadi bukti nyata akulturasi kuliner yang berkembang pesat pada masa kolonial. Popularitasnya tidak hanya terlihat dari meja makan masyarakat lokal, tetapi juga dari sejumlah iklan di media cetak era tersebut. Bahkan, pada tahun 1888, resep nasi goreng telah terdokumentasi dalam beberapa publikasi, mencerminkan bagaimana hidangan sederhana ini mulai mendapatkan tempat istimewa, baik sebagai simbol inovasi kuliner lokal maupun hasil pengaruh budaya asing. Dengan resep dan iklan yang menghiasi berbagai halaman, nasi goreng menunjukkan eksistensinya sebagai cerminan sosial dan budaya masa itu.

Sebagai salah satu ikon kuliner Nusantara, adapun contoh resep pada era kolonial belanda yang dimuat dalam buku dengan judul De Indische Tafel terbit tahun 1938 yang di Tulis Oleh Braam J lebih mudah diperoleh dan dapat dipesan untuk beberapa bulan sekaligus.

Menggunakan herba dalam bentuk bubuk paling mudah, namun aroma masakan akan bertambah jika herba selalu dihaluskan dalam jumlah yang dibutuhkan. Ketoembar dan djienten ditumbuk dalam lesung atau dihancurkan bersama bumbu masakan lainnya. Akar seperti lengkuas, koenjit, kentjoor, temoe kunjitji, djahé, dikupas dan diparut, atau dikupas dan dipotong tipis-tipis, digosok halus dengan bumbu lain atau dimasak dalam irisan di piring. Akar kering direndam terlebih dahulu semalaman atau direbus sebentar.

Jika wortel masih sangat segar, rasa pedasnya bisa dikurangi dengan memanggangnya di atas api sebelum digunakan.

Untuk berbagai masakan, lombok, trassie, dan kemirie juga dipanggang atau dipanggang untuk menambah aromanya; itu tidak perlu. Bumbu-bumbu (boemboe) untuk aneka masakan juga tersedia campuran, seperti gulai boemboe, nasi goreng boemboe , sate boemboe, boemboe besengek, dan lain-lain. Namun, disarankan untuk mencampur sendiri, karena nanti selera sendiri bisa diperhitungkan”
Hidangan ini dianggap sebagai solusi praktis untuk memanfaatkan sisa nasi sekaligus bentuk kreativitas dalam memasak dengan bumbu lokal. Namun, adaptasi bumbu-bumbu dan teknik memasaknya juga memperlihatkan adanya pengaruh dari budaya kuliner Tionghoa yang meresap dalam masyarakat Hindia Belanda. Kehadiran nasi goreng dalam iklan dan buku masak era kolonial menggambarkan bagaimana makanan ini tidak hanya memiliki nilai konsumsi, tetapi juga berfungsi sebagai media interaksi budaya.

Tag:
WordPress Collection Give – Aweber Give Boost – Digital Marketing Agency Elementor Template Kit Give – Braintree Gateway Give – CCAvenue Gateway Give – Constant Contact Give – ConvertKit Give – Currency Switcher Give – Email Reports Give – Fee Recovery Give – Form Field Manager