Jember– Di tengah bayang-bayang tuntutan kelulusan dan tumpukan bab akhir skripsi yang kerap menguras energi, dua mahasiswa tingkat akhir berhasil membuktikan bahwa kegelisahan intelektual mampu mendobrak dinding keterbatasan fisik. M. Imam Baihaqi, S.Hum. dan Exlima Ramadani, S.Hum., dua mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, sukses menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional, Dedikasi riset yang mereka bangun sejak bangku kuliah tersebut kini berbuah manis dengan menyabet dua penghargaan sekaligus dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Program Akuisisi Pengetahuan Lokal.

Pencapaian ini seketika menepis anggapan miring yang selama ini kerap melekat pada institusi daerah. Lahir dari rahim kampus yang selama ini sering dianggap sebagai kampus pinggiran, karya nyata kedua alumni SPI UIN KHAS ini justru mampu mendapat pengakuan dan validasi langsung di tingkat lembaga nasional bentukan negara yang memiliki kredibilitas sangat tinggi. Melalui Direktorat Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah, BRIN merilis dua piagam penghargaan resmi, yakni Nomor B-4523/II.7.4/FR.05.03/5/2026 untuk situs Sendang Duwur dan Nomor B-5565/II.7.4/FR.05.03/6/2026 untuk situs Sunan Bejagung
Berdasarkan konfirmasi langsung via WhatsApp, kedua peneliti muda ini kini telah resmi menyandang status sebagai alumni dan sukses menapaki dunia profesional yang linier dengan pascaprestasi mereka. Exlima Ramadani saat ini berhasil membangun karier di Museum Nasional KH Hasyim Asy’ari (MINHA) Tebuireng, Jombang, sebuah institusi penting pelestarian memori kolektif perjuangan Islam dan bangsa, sementara M. Imam Baihaqi memilih jalur kewirausahaan kreatif dengan menakhodai perusahaannya sendiri, Exam Studio. Lompatan karier dari Jember menuju panggung profesional ini berakar dari keberanian mereka mengeksplorasi sejarah lokal secara radikal dan mendalam saat masih menyandang status mahasiswa akhir.
Jika menengok ke belakang, proses kreatif di balik layar riset ini sebenarnya dipenuhi komedi getir khas mahasiswa berkantong tipis. Alih-alih datang membawa kru produksi megah dengan asisten yang memayungi mereka dari terik matahari, Imam dan Exlima justru kerap dikira sebagai rombongan ziarah yang tersesat atau salah rombongan karena sibuk bolak-balik mengitari makam purbakala. Kelucuan absurd kerap terjadi saat memori ponsel mendadak penuh di tengah-tengah proses syuting adegan krusial, memaksa mereka menghapus paksa foto-foto pribadi, aplikasi ojek online, hingga grup WhatsApp keluarga demi menyelamatkan beberapa megabita ruang rekam pengetahuannya.
Namun di balik gelak tawa menyiasati keadaan tersebut, ada ruang sedih dan keharuan mendalam yang menjadi bahan bakar utama perjuangan mereka. Mengunjungi makam-makam kuno di perbukitan sunyi membawa sejuta refleksi batin, terlebih ketika menyadari bahwa narasi besar penyebaran Islam kultural Nusantara yang begitu adiluhung justru sedang dipertaruhkan nasibnya di tangan ponsel usang milik dua mahasiswa akhir yang bahkan belum tentu memiliki biaya utuh untuk membayar sewa indekos bulan depan. Ada rasa haru yang menusuk dada saat mengingat malam-malam panjang tanpa tidur di sudut koridor kampus, menatap layar laptop yang mulai bergaris, demi merajut potongan data agar ingatan bangsa ini tidak punah.” ya saat saat ngedit itu laptop itu udah gak kuat, layanya bergaris, trus batrenya gak berfungsi ya bisa di sebut laptop kulkas lah wkwkwkwkwkwk, sekarang laptopnya mau saya daftarkan jadi artefak sejarah wkwkwk” tutup exlima sambil tertawa”.
Pemilihan situs Makam Sunan Sendang Duwur di Lamongan dan Makam Sunan Bejagung di Tuban dalam riset mereka bukanlah sebuah kebetulan geografis yang acak, melainkan sebuah kesengajaan ilmiah dalam satu garis linier. Kedua kompleks suci di pesisir utara Jawa ini memiliki keterkaitan khusus yang sangat erat dalam genealogi dan peta besar dakwah Islam kultural di Nusantara. Keduanya merupakan episentrum asimilasi kebudayaan, di mana proses islamisasi tidak bergerak dengan cara memberangus tradisi lama, melainkan merangkul, bernegosiasi, dan hidup berdampingan secara harmonis selama berabad-abad.
Pada situs pertama di Sendang Duwur, mereka membedah bagaimana estetika Hindu-Buddha berpadu mesra dalam arsitektur Islam visual melalui wujud gapura bentar dan paduraksa yang ikonik. Di sinilah letak keunikan metodologinya. Imam Baihaqi belajar langsung kepada Arif Mustaqim, dosen Sosiologi mereka, tentang bagaimana cara “ngobrol” dengan objek visual makam guna membaca narasi sejarah yang melekat erat pada nisan dan gapura makam Sunan Sendang Duwur. “Iya, saya itu diajarin Pak qim di kelas, bagaimana Ilmu sosiologi tu bisa di gunakan untuk Ilmu sejarah, jadi kita harus ngobrol ya… tanya jawab dengan objek makam itu. Semisal: kok kamu ditulis begini?, kok kamu dibangun begini itu kenapa? Nah, saya konfirmasilah itu ke Mas Agus dan Pak Purbo yang ahli,” kenang Imam dalam pesan singkatnya, menggambarkan bagaimana benda mati pun dipaksa bicara lewat pendekatan sosiologi visual.
Menariknya, dua mahakarya yang diakui negara ini lahir dari rahim keterbatasan logistik dan fasilitas yang sangat nyata di lapangan. Jauh dari bayangan proyek riset mentereng yang disokong pendanaan melimpah atau perangkat sinematik berspesifikasi tinggi, mereka turun ke lapangan dengan alat seadanya. Tidak ada kamera bioskop profesional, lensa premium, ataupun rig stabilizer mahal; modal utama mereka untuk merekam seluruh bukti visual cagar budaya tersebut hanyalah sebuah kamera HP yang ada di dalam saku celana mereka, membuktikan bahwa ketajaman perspektif jauh lebih bernilai ketimbang mewahnya lensa.
Dalam menyusun rekonstruksi historis yang presisi ini, Imam dan Exlima tidak berjalan sendirian; mereka dibantu oleh Agus Santoso, S.Hum., seorang sejarawan yang ahli dan mengerti betul cara membaca serta membedah arsip-arsip kolonial Belanda
Kehadiran Agus memberikan jangkar dokumen tertulis yang kuat, memaksa data visual hasil bidikan ponsel di lapangan sinkron dengan catatan-catatan kolonial masa lalu. Di sisi lain, Ahmad Hanafi, M. Hum. dan Mawardi Purbo Sanjoyo, M.A. (Pak Purbo), selaku dosen pembimbing sejarah mereka terus mengawal ketat metodologi dari awal hingga akhir agar jalinan fakta tidak bias.
Sinergi lintas peran antara mahasiswa sejarah, ahli arsip Belanda, serta kawalan dosen sejarah dan sosiologi ini berhasil melahirkan produk pengetahuan yang lolos kurasi ketat BRIN. Kedua karya ilmiah berbentuk audiovisual tersebut kini resmi diadopsi sebagai bagian dari sumber literasi sains dengan prinsip akses terbuka (open access) melalui Program Akuisisi Pengetahuan LokalNamun, di balik selembar kertas penghargaan formal dari Jakarta, tersisa pertanyaan kritis yang jauh lebih makro: apakah digitalisasi bermodal kamera HP dari mahasiswa UIN KHAS ini akan direspons dengan kebijakan konservasi fisik yang konkret di lapangan oleh otoritas terkait, atau hanya akan berakhir sebagai pemanis peladen arsip di pusat sementara situs aslinya perlahan diabaikan zaman?












