Beranda / PROGRAM KULIT POHON / Diskusi Santai Bahas Ragam Hias Kala dan Bentuk Perubahannya

Diskusi Santai Bahas Ragam Hias Kala dan Bentuk Perubahannya

Jember, 7 September 2026 – Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon menyelenggarakan kegiatan “Diskusi Santai: Ragam Hias Kala dan Bentuk Perubahannya” pada Senin, 7 September 2026, pukul 19.00–21.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk membahas salah satu bentuk ragam hias yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah kebudayaan Nusantara, yaitu Kala, serta perubahan bentuk dan coraknya dari masa klasik hingga periode modern.

 

Diskusi yang berlangsung di Basecamp Kupon, Perum Alam Hijau Blok G5-28 tersebut menghadirkan Rehan Ismail Adi Nasahudin dari Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon sebagai pemantik diskusi. Kegiatan dikemas dalam suasana santai sehingga pembahasan mengenai sejarah, seni rupa, dan kebudayaan dapat disampaikan secara lebih terbuka dan mudah dipahami.

 

Tema mengenai Kala dipilih karena bentuk ragam hias tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan estetika. Dalam perkembangannya, Kala memiliki hubungan erat dengan mitologi, kepercayaan, arsitektur, serta perubahan kebudayaan yang berlangsung dalam masyarakat. Materi diskusi menjelaskan bahwa hiasan Kala yang terdapat pada pintu masuk candi klasik Indonesia Hindu memiliki keterkaitan dengan mitologi India kuno. Di Bali, salah satu bentuknya dikenal dengan nama Boma, yang digambarkan sebagai raksasa dengan mulut terbuka, taring runcing, serta tangan terbuka di sisi kanan dan kiri wajah.

Pembahasan kemudian diarahkan pada asal-usul konsep Kala dalam tradisi India melalui figur Kirtimukha. Dalam mitologi kuno India, Kirtimukha digambarkan sebagai sosok raksasa atau monster yang muncul dari antara kedua alis Dewa Siwa ketika sedang marah. Sosok tersebut dikisahkan memiliki rasa lapar yang tidak pernah terpuaskan dan diciptakan untuk menelan Rahu, utusan Raja Raksasa Jalandhara. Kirtimukha kemudian ditempatkan di ambang pintu kuil sebagai penjaga dan menjadi bagian penting dalam simbolisme bangunan suci.

 

Dalam konteks Nusantara, bentuk Kala mengalami perkembangan yang menarik dari satu periode ke periode berikutnya. Pada periode Klasik Awal sekitar 600–900 M, misalnya, kepala Kala dari Candi Dieng digambarkan secara frontal tanpa rahang bawah. Lubang mulut menjadi bagian yang berhubungan langsung dengan pintu masuk ruang bangunan candi. Teknik ukir batu menghasilkan tampilan Kala yang terkesan sangar, kejam, dan menyeramkan. Karakter tersebut menunjukkan kuatnya penggambaran Kala sebagai figur yang memiliki fungsi simbolis sekaligus menjadi elemen visual arsitektur.

 

Memasuki masa Klasik Madya sekitar 900–1250 M, terjadi perubahan pada karakter visual Kala. Contohnya dapat dilihat pada Kala dari Candi Plaosan Lor. Pada periode ini, wajah Kala mulai menampilkan rahang bawah dan mulut yang sedikit terbuka. Mata masih digambarkan melotot, tetapi susunan gigi atas dan bawah lebih menyerupai gigi manusia dan tidak lagi menggunakan taring berukuran besar. Pada bagian pipi terdapat bentuk seperti cakar kaki harimau sehingga wajahnya memiliki kesan menyerupai harimau atau “raja hutan”.

 

Perubahan semakin terlihat pada periode Klasik Akhir sekitar 1250–1400 M, sebagaimana ditunjukkan melalui Kala dari Candi Panataran di Jawa Timur. Bentuknya dibuat dengan teknik pahat batu yang terampil, rapi, teliti, dan rumit. Wajah Kala ditampilkan secara frontal lengkap dengan rahang bawah. Mulut menyeringai dengan taring besar dan tajam, sementara mata yang melotot memberikan kesan bengis dan menyeramkan. Di sisi kanan dan kiri wajah terdapat bentuk tangan manusia dengan posisi jari tertentu.

 

Menariknya, perkembangan bentuk Kala tidak menghasilkan satu pola yang seragam. Kala dari Candi Borobudur, misalnya, mempunyai karakter yang berbeda. Figur tersebut tidak menampilkan rahang bawah, dengan mata besar dan melotot berbentuk spiral. Pipinya tersusun dalam dua bagian, sementara mulut hanya memperlihatkan bibir bagian atas dengan gigi kecil-kecil yang tidak bertaring. Bentuk rambut di bagian pipi serta kepala juga berkembang menjadi ornamen yang menyerupai lung-lungan dan daun-daunan. Materi diskusi turut menampilkan perkembangan corak Kala dari Candi Jago dan Candi Singosari.

 

Perjalanan Kala kemudian tidak berhenti pada bangunan candi. Bentuknya mengalami metamorfosis menjadi corak Banaspati, termasuk penggunaannya sebagai corak “topengan” untuk menghiasi pendok keris dan sebagai hiasan kepala Kala di atas pintu masuk gua. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah bentuk visual dapat berpindah dari satu konteks budaya ke konteks lainnya tanpa sepenuhnya kehilangan jejak sejarahnya.

 

Diskusi juga membahas perkembangan Kala pada periode Islam. Materi menjelaskan adanya perubahan dalam penggambaran makhluk hidup yang kemudian melahirkan gagasan kreatif berupa deformasi dan stilasi objek alami. Perubahan tersebut dapat dilihat dalam perkembangan figur Batara Kala pada wayang kulit purwa serta rupa hias Banaspati pada gunungan dari berbagai wilayah, seperti Surakarta, Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Cirebon, dan Jawa Timur.

 

Pada akhirnya, pembahasan membawa peserta pada periode modern, ketika corak Kala kembali hadir melalui penciptaan karya seni rupa, salah satunya dalam bentuk relief “Raksasa Kala” bercorak modern.

 

Melalui diskusi ini, “Ragam Hias Kala dan Bentuk Perubahannya” tidak sekadar membicarakan bentuk wajah raksasa pada candi. Lebih jauh, pembahasan tersebut memperlihatkan bagaimana suatu simbol dapat mengalami perubahan bentuk, gaya, fungsi, dan konteks seiring perubahan zaman. Dari pintu masuk candi, tradisi arsitektur, Banaspati, wayang kulit, hingga karya seni rupa modern, jejak Kala menunjukkan adanya proses panjang transformasi kebudayaan.

 

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon dalam membuka ruang pembelajaran dan diskusi mengenai sejarah serta warisan budaya. Dalam suasana yang lebih informal, pembahasan sejarah dapat ditempatkan bukan sebagai sesuatu yang jauh dan kaku, melainkan sebagai bagian dari kehidupan budaya yang terus mengalami perubahan. Karena ternyata manusia memang punya kebiasaan aneh: membuat simbol, mengubahnya selama ratusan tahun, lalu bertanya-tanya apa artinya. Untungnya, diskusi seperti ini membantu kita menelusuri jawabannya.

 

WordPress Collection Interiocity – Home Decor Blog and Interior Design Magazine WordPress Theme Interior – Architecture and Interior Design WordPress Theme Interique | Interior Design WordPress Theme Interlinks Manager International SMS For WooCommerce Internet Provider Broadband TV WordPress Theme | Internet Service – Subnet Interrio – WordPress Theme for Architecture and Interior Design Intervin – Real Estate Elementor Template Kit Intify – Real Estate Elementor Template Kit Intime – Business Consulting WordPress Theme