”Surinamese Javanese”
80.000 Orang Jawa di Selatan Amerika.
Kedatangan orang Jawa membawa pengaruh besar pada budaya di negara Suriname, Amerika selatan. Bahasa Jawa, tarian tradisional Jawa, musik Jawa, dan tradisi kuliner Jawa masih dapat ditemukan di Suriname hingga saat ini. Warisan sejarah tersebut masih hidup hingga kini dan menjadi bagian penting dari identitas Suriname. Dibalik itu terdapat kisah para buruh migran Indonesia yang penuh nuansa, harapan, perjuangan, identitas, hingga kekelaman. Migrasi orang Jawa ke Suriname adalah sebuah sejarah awal mula pekerja migran Indonesia.

Antara tahun 1890 hingga 1939, kolonial Belanda mengirim sekitar 33.000 orang Jawa untuk bekerja di Suriname. Kebanyakan dari mereka merupakan masyarakat Jawa yang berasal dari Jawa Tengah, daerah sekitar Batavia (Jakarta), Surabaya, dan Semarang. Suriname adalah wilayah kolonial Belanda di Amerika, namun pada 1863 sistem perbudakan kolonial Belanda dihapuskan, Belanda pun terpaksa mengikuti aturan yang diberikan Karibia. Sebanyak 33.000 budak Belanda di Suriname harus dibebaskan, untuk gantinya Belanda mengirim buruh dari Indonesia dengan upah yang telah disetujui.
Pengiriman ini terutama dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan di wilayah kolonial Belanda. Kebanyakan buruh kontrak Indonesia di Suriname bekerja dalam kondisi yang sangat sulit, dengan upah yang rendah yang melenceng dari persetujuan awal, terserang berbagai penyakit, kecelakaan kerja, tidak memiliki jaminan sosial, hingga perlakuan buruk majikan.
Menjelang perang Dunia II pada tanggal 1 September 1939, hanya sekitar 20 sampai 25 persen tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kembali. 75 persen dari mereka menetap di Suriname hingga saat ini
Orang-orang Jawa di Suriname masih tetap menggunakan identitas mereka sebagai masyarakat Jawa. Meskipun telah berabad-abad, proses integrasi orang Jawa ke dalam masyarakat Suriname masih terus berlangsung. Ada tantangan-tantangan yang harus dihadapi, seperti diskriminasi dan kesenjangan sosial ekonomi. Akan tetapi generasi kedua dan ketiga orang Jawa di Suriname seringkali memiliki identitas ganda, antara identitas Jawa dan identitas Suriname.











