Peran Lougie di Perkebunan Sumberayu pada Era Kolonial dan Pendudukan Jepang.
Lougies merupakan kelompok pekerja kontrak yang berasal dari luar daerah perkebunan, umumnya didatangkan dari pulau Jawa. Mereka memainkan peran krusial dalam sistem perkebunan di Indonesia, termasuk di Perkebunan Sumberayu, selama masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang. Lougie di perkebunan Sumberayu Jember tahun 1910 bekas peninggalan kolonial Belanda sesudah sekutu dikalahkan oleh tentara Jepang pendudukan berpindah ke tangan Jepang sekitar 3 tahun Perkebunan Sumberayu di Jember, Jawa Timur, merupakan saksi sejarah penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang. Pada tahun 1910, perkebunan ini dikelola oleh Lougie, seorang pengusaha Eropa yang memanfaatkan sistem kerja paksa untuk meningkatkan produksi komoditas ekspor seperti kopi, kakao, dan karet. Meski menguntungkan Belanda, sistem ini membawa penderitaan bagi masyarakat lokal.
Lougie dikenal dengan manajemen yang efektif, tetapi eksploitasi tenaga kerja pribumi tanpa imbalan yang layak membuatnya menjadi simbol kolonialisme yang menindas. Penduduk lokal kehilangan tanah dan kendali atas sumber daya mereka. Setelah Jepang mengalahkan Belanda pada 1942, perkebunan Sumberayu beralih kendali. Jepang memperburuk sistem kerja paksa untuk mendukung perang mereka, memaksa penduduk bekerja lebih keras di bawah kondisi yang semakin berat. Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, Sumberayu menjadi bagian dari perjalanan bangsa melawan penjajahan. Jejak kolonial Belanda dan pendudukan Jepang masih terlihat pada bangunan-bangunan tua di kawasan perkebunan, yang kini menjadi pengingat akan perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Peran Lougie pada Masa Kolonial Belanda sebagai Tenaga Kerja Utama Lougie menjadi tulang punggung tenaga kerja di perkebunan. Mereka mengerjakan berbagai tugas, mulai dari menanam, memetik, hingga mengolah hasil perkebunan.
Sistem Kontrak Lougie bekerja berdasarkan sistem kontrak yang mengikat mereka pada perusahaan perkebunan dalam jangka waktu tertentu. Kondisi Kerja Kondisi kerja lougies umumnya berat dan kurang menguntungkan. Mereka tinggal di barak-barak yang sederhana dan upah yang mereka terima relatif rendah. Mobilitas Sosial Meskipun kondisi kerja sulit, menjadi lougie menawarkan peluang mobilitas sosial bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang berasal dari daerah pedesaan dengan sumber daya terbatas.










