Beranda / Berita / Dua Kiblat di Perkampungan Jawa di Suriname (Islam Madep Ngulon Dan Islam Madep Ngetan)

Dua Kiblat di Perkampungan Jawa di Suriname (Islam Madep Ngulon Dan Islam Madep Ngetan)

Dua Kiblat di Perkampungan Jawa di Suriname (Islam Madep Ngulon Dan Islam Madep Ngetan)

Di Suriname, sebuah negara kecil di Amerika Selatan, terdapat sebuah fenomena unik yang menggambarkan perjalanan panjang komunitas Jawa berupa adanya dua kiblat di perkampungan Muslim Jawa. Fenomena ini tidak hanya menjadi cerminan sejarah migrasi, tetapi juga bukti bagaimana tradisi Islam yang dibawa dari tanah air beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ribuan orang Jawa dibawa ke Suriname oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pekerja kontrak. Mereka datang dengan membawa budaya, tradisi, dan agama Islam, yang menjadi identitas penting dalam kehidupan mereka. Dalam membangun komunitas di tanah yang jauh, mereka mendirikan masjid-masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan. Namun, di tengah semangat menjaga tradisi Islam, muncul perbedaan arah kiblat.

Kelompok Islam-hadap-barat adalah komunitas religius yang paling dominan di kalangan orang Jawa, meskipun jumlah penganutnya terus menurun. Para kelompok Islam-hadap-barat ini, bersembahyang menghadap ke barat, mengikuti tradisi leluhur mereka di Indonesia, meskipun telah mendengar bahwa arah kiblat seharusnya ke timur. Menurut Wibowo, fokus utama kelompok ini adalah pelestarian identitas. Kelompok ini sangat menjaga warisan leluhur agar tidak hilang, meskipun banyak di antara mereka yang tidak memahami makna ritual-ritual yang mereka lakukan. Kelompok ini dapat menghafal bacaan Al-Quran, tetapi tidak memahami arti dalam bacaan bahasa Arab. Energi mereka dicurahkan untuk menghafal setiap detail bacaan, sehingga mereka kesulitan mencari penerus.

 

Tidak ada sekolah yang mengajarkan ajaran Islam-hadap-barat, dan apabila generasi muda dikirim ke luar negeri untuk belajar, mereka justru pindah menjadi penganut Islam-hadap-timur. Wibowo menjelaskan bahwa para kuli kontrak Jawa yang dibawa ke Suriname bukanlah orang-orang terpelajar, sehingga di antara mereka tidak ada pemimpin agama.

Ritual dan ajaran agama diturunkan secara hafalan dari generasi ke generasi.
Pada tahun 1911, sebuah gerakan dimulai di Indonesia oleh para pelajar yang kembali dari Arab Saudi untuk menimba ilmu agama. Para pelajar tersebut, menyebarkan ajaran puritan yang bertujuan memurnikan agama Islam dari pengaruh budaya lokal. Sebagian dari mereka diyakini ikut datang ke Suriname, terutama karena imigrasi orang Jawa ke Suriname berlangsung hingga 1930-an. Di tahun-tahun akhir imigrasi, lebih banyak orang terpelajar yang datang. Meskipun Kelompok puritan ini kecil jumlahnya, mereka cenderung menyebarkan ajarannya secara rahasia dengan sembahyang menghadap ke timur. Wibowo menyebut kelompok ini sebagai Islam-hadap-timur dan menggambarkan para pembelajar sebagai pembaharu, sedangkan penganut Islam-hadap-barat disebut tradisionalis. Para pembaharu yang pertama, mengingatkan orang untuk sembahyang ke arah timur. Para Pembaharu, menyebut diri sebagai Shabatul Islam atau “Sahabat Islam.” Namun, mereka bersikap sangat keras terhadap tradisi, sehingga banyak hal dianggap tidak Islami dan dinyatakan haram. Pendekatan ini menjadi alasan mengapa gerakan Shabatul Islam tidak berhasil berkembang di banyak tempat.
Sedangkan, di kota Nickerie, gerakan pembaharu ini berhasil, karena pemimpin setempat bersikap lebih moderat. Akibatnya, di wilayah tersebut tidak lagi terdapat penganut Islam-hadap-barat, dan budaya tradisional Jawa hampir hilang sepenuhnya. Pembaharu ini mendorong orang untuk mempelajari Al-Quran dan meningkatkan frekuensi ibadah. Namun, mereka juga menghadapi tantangan berupa kurangnya pemahaman mendalam tentang agama. Kemajuan besar kelompok Islam-hadap-timur terjadi pada tahun 1950-an, ketika orang-orang Indonesia mulai berdatangan ke Suriname. Kedatangan mereka disambut hangat oleh komunitas Jawa, yang haus akan pengetahuan lebih dalam tentang agama. Pada saat itu, seorang tokoh bernama Amir Siregar mendirikan Yayasan Jemaah Islami Suriname (SIS). Beasiswa mulai diberikan pada paruh kedua tahun 1970-an untuk memungkinkan orang belajar Islam di Indonesia, sementara guru-guru dari luar negeri, termasuk dari Libya dan Arab Saudi, juga didatangkan ke Suriname.

Tag:
WordPress Collection Rufers – Renovation Services WordPress Theme Ruffer – Roof Construction & Repair WordPress Theme Ruger – Digital Agency and Portfolio WordPress Theme Ruki – A Captivating Personal Blog Theme Rumma – Furniture Interior Elementor Template Kit RunCrew | Running Club, Marathon & Sports WordPress Theme Runda – Creative Agency Elementor Template Kit Rush – Esports & Gaming WordPress Theme Ruza – Beauty Cosmetics Shop WordPress Theme Ryse – SEO & Digital Marketing Elementor Template Kit