Beranda / opini / Ketika Perjalanan Suci Jamaah Haji Menjadi Bisnis Kolonial ( Kongsi Tiga)

Ketika Perjalanan Suci Jamaah Haji Menjadi Bisnis Kolonial ( Kongsi Tiga)

 

Bisnis di Tengah Perjalanan Suci

Hari ini, kita mengenal perjalanan haji sebagai sebuah sistem yang teratur. Ada pesawat, jadwal penerbangan, paspor, hotel, bus, katering, dan berbagai layanan yang membuat jutaan orang dapat bergerak menuju Tanah Suci dalam waktu yang relatif singkat. Tetapi lebih dari seratus tahun lalu, perjalanan itu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagi jamaah haji dari Nusantara, pergi ke Makkah berarti meninggalkan kampung halaman, menempuh perjalanan berbulan-bulan, menyeberangi lautan, menghadapi penyakit, berdesakan di kapal, dan mempertaruhkan keselamatan demi memenuhi panggilan agama.

Di tengah perjalanan sakral itu berdiri sebuah kepentingan yang sangat duniawi: bisnis. Nama itu adalah Kongsi Tiga. Kongsi Tiga merupakan kerja sama tiga perusahaan pelayaran, yakni Stoomvaart Maatschappij Nederland, Rotterdamsche Lloyd, dan Nederlandsche Stoomvaart Maatschappij Oceaan (NSMO). Ketiganya membangun jaringan pelayaran yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara dengan Jeddah dan wilayah Timur Tengah. Bagi jamaah, kapal-kapal itu adalah kendaraan menuju Tanah Suci. Bagi perusahaan, jamaah adalah penumpang. Dan bagi pemerintah kolonial, perjalanan mereka merupakan mobilitas manusia yang harus diawasi.

Di situlah ironi sejarah haji pada masa kolonial menjadi begitu jelas: sebuah perjalanan yang bagi jamaah memiliki makna spiritual yang sangat dalam, pada saat yang sama berada di dalam sistem ekonomi dan politik kolonial.

Sumber sezaman bahkan memperlihatkan bagaimana perjalanan tersebut dipasarkan secara terbuka. Sebuah iklan berbahasa Melayu dengan aksara Arab menampilkan judul “Kapal Haji Kongsi Tiga”, disertai nama perusahaan-perusahaan yang tergabung di dalamnya. Iklan itu penting bukan hanya karena menunjukkan keberadaan Kongsi Tiga, tetapi karena memperlihatkan bahwa perjalanan menuju Tanah Suci telah masuk ke dalam logika pasar. Haji tidak hanya menjadi perjalanan iman. Ia juga telah menjadi bagian dari industri transportasi.

Kapal menjadi tempat bertemunya dua dunia yang berbeda. Bagi jamaah, kapal adalah jalan menuju Makkah. Bagi perusahaan pelayaran, kapal adalah aset yang harus menghasilkan keuntungan. Di antara keduanya ada pemerintah kolonial yang berkepentingan mengatur siapa yang pergi, bagaimana mereka berangkat, bagaimana mereka diangkut, dan bagaimana perjalanan itu diawasi.

Mungkin inilah salah satu sisi sejarah haji yang paling jarang kita bicarakan: bahwa perjalanan menuju Tanah Suci pernah berlangsung di dalam ruang yang dikuasai oleh kepentingan kolonial.

Dari Kampung Halaman Menuju Pelabuhan

Jamaah dari berbagai pelosok Hindia Belanda tidak tiba-tiba muncul di pelabuhan. Mereka harus menempuh perjalanan panjang bahkan sebelum menaiki kapal: dari desa menuju kota, dari kota menuju stasiun, dari stasiun menuju pelabuhan, dan dari pelabuhan menuju kapal. Baru kemudian mereka menyeberangi lautan menuju Jeddah.

Tanjung Priok di Batavia menjadi salah satu simpul penting dalam jaringan tersebut. Bagi jamaah yang datang dari luar Batavia, perjalanan menuju pelabuhan dapat ditempuh melalui kereta api ataupun pelayaran antarpulau. Dengan demikian, sejarah haji sesungguhnya adalah sejarah tentang mobilitas manusia dalam skala yang sangat besar. Desa, jalan, stasiun, pelabuhan, kapal, Jeddah, dan Makkah terhubung dalam satu rantai perjalanan.

Kita sering membayangkan haji sebagai perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Padahal bagi jamaah Nusantara pada masa kolonial, perjalanan itu adalah perjuangan untuk mencapai titik keberangkatan saja.

 

Kapal, Laut, dan Risiko Perjalanan

Dan setelah kapal berangkat, persoalan belum selesai. Laut bukan jalan raya yang tenang. Kapal membawa manusia dalam jumlah besar, menempuh perjalanan panjang dengan kondisi yang tidak selalu ideal. Kesehatan menjadi persoalan serius. Penyakit, kebersihan, air, makanan, ventilasi, dan kepadatan penumpang menjadi bagian dari pengalaman perjalanan haji.

Sebuah sumber Belanda berjudul De sterfte onder de Mekkagangers atau “Kematian di kalangan jamaah haji” mencatat skala mobilitas yang luar biasa besar. Dari sekitar 35.000 jamaah yang diberitakan, sekitar 31.000 disebut diangkut oleh tiga perusahaan yang tergabung dalam Kongsi Tiga. Rinciannya sekitar 11.000 oleh Rotterdamsche Lloyd, 10.650 oleh Oceaan, dan 9.350 oleh Maatschappij Nederland.

Angka-angka tersebut menunjukkan kekuatan jaringan Kongsi Tiga. Tetapi angka itu juga memiliki sisi lain yang lebih menggetarkan.

Di balik puluhan ribu nama dalam statistik tersebut terdapat manusia.

Ada orang tua yang meninggalkan keluarganya. Ada petani yang menabung bertahun-tahun. Ada pedagang yang mengumpulkan biaya perjalanan sedikit demi sedikit. Ada orang yang mungkin hanya sekali dalam hidupnya memiliki kesempatan melihat Makkah. Dan semua mereka harus mempercayakan sebagian perjalanan sucinya kepada sebuah sistem transportasi komersial yang berada dalam struktur kolonial.

Ketika koran kolonial berbicara tentang angka kematian, statistik mungkin menjadi bahasa yang dingin. Tetapi bagi jamaah, kematian bukan angka. itu artinya kehilangan, hilangnya seseorang yang berangkat dengan harapan kembali sebagai haji, tetapi tidak pernah pulang ke kampung halaman.

Karena itu, pembicaraan tentang transportasi haji tidak boleh berhenti pada jumlah kapal, nama perusahaan, atau statistik penumpang. Di balik angka-angka tersebut terdapat pengalaman manusia yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.

Regulasi: Perlindungan dan Pengawasan

Pemerintah kolonial tentu menyadari persoalan kesehatan tersebut. Berbagai aturan diterbitkan untuk mengatur transportasi haji, antara lain Ordonansi Haji 1898 dan Ordonansi Haji 1922. Ketentuan tersebut menyentuh berbagai aspek perjalanan, termasuk kondisi kapal, ruang penumpang, air, ventilasi, makanan, dan kesehatan. Aturan 1922 bahkan memberikan perhatian lebih besar terhadap persoalan higienitas dan fasilitas kapal.

Namun di sinilah kita kembali berhadapan dengan paradoks kolonial. Regulasi dapat berarti perlindungan, Tetapi regulasi juga berarti pengawasan, Pemerintah kolonial tidak hanya ingin memastikan jamaah tidak sakit di perjalanan. Mereka juga mempunyai kepentingan terhadap mobilitas penduduk Muslim yang pergi ke pusat dunia Islam. Haji merupakan perjalanan keagamaan, tetapi dalam pandangan pemerintah kolonial, ia juga merupakan mobilitas sosial yang perlu diperhatikan dan dikendalikan.

Kongsi Tiga dan Kepentingan Ekonomi

Maka kapal haji menjadi lebih dari sekadar kapal. Ia adalah ruang tempat agama, bisnis, kesehatan, teknologi, dan kekuasaan bertemu. Kongsi Tiga kemudian memperoleh posisi kuat dalam sistem transportasi haji. Pada periode tertentu, perusahaan-perusahaan yang tergabung di dalamnya mendapatkan hak monopoli atau pembatasan tertentu dalam pengangkutan jamaah. Pada akhir 1920-an, pengangkutan jamaah dari Tanjung Priok kembali sangat bergantung pada jaringan perusahaan tersebut.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana perjalanan ibadah dapat masuk ke dalam struktur ekonomi kolonial. Semakin banyak orang melakukan perjalanan, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapal. Semakin besar kebutuhan terhadap kapal, semakin besar pula nilai ekonominya.

Ini bukan berarti iman jamaah dapat direduksi menjadi komoditas. Justru sebaliknya. Yang terlihat dari sejarah Kongsi Tiga adalah bagaimana sebuah kebutuhan spiritual yang sangat besar dapat berada di dalam sistem ekonomi yang memanfaatkannya sebagai pasar.

Jamaah berangkat karena panggilan agama. Perusahaan menyediakan kapal karena kepentingan ekonomi. Pemerintah mengatur karena kepentingan administratif dan politik. Pelabuhan berkembang karena mobilitas manusia. Pedagang memperoleh keuntungan dari arus penumpang. Informasi bergerak bersama jamaah. Teknologi transportasi memperpendek jarak dunia.

Depresi Besar dan Perubahan Perjalanan Haji

Kemudian datanglah Depresi Besar pada dekade 1930-an, Jumlah jamaah dari Hindia Belanda menurun tajam. Dunia ekonomi terguncang, dan dampaknya terasa hingga perjalanan haji. Ini memperlihatkan sesuatu yang penting: bahkan perjalanan ke Tanah Suci tidak berada di luar jangkauan krisis ekonomi global.

Sejarah tersebut mengingatkan kita bahwa perjalanan keagamaan selalu berlangsung di dalam dunia nyata. Ia dipengaruhi harga, kapal, pelabuhan, kesehatan, regulasi, politik, dan kondisi ekonomi. Kesucian tujuan tidak membuat perjalanan menuju ke sana terbebas dari persoalan duniawi.

Jamaah sebagai Manusia, Bukan Sekadar Angka

Mereka bukan sekadar angka dalam arsip kolonial. Mereka adalah manusia yang berani meninggalkan rumah demi sebuah keyakinan.

Mereka menyeberangi lautan yang luas ketika teknologi transportasi belum seperti sekarang. Mereka menghadapi ketidakpastian perjalanan. Mereka berada di kapal selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Mereka menghadapi persoalan kesehatan dan kepadatan. Mereka memasuki sebuah jaringan transportasi yang dikuasai perusahaan besar dan diatur oleh pemerintah kolonial.

Iklan “Kapal Haji Kongsi Tiga” memperlihatkan satu sisi perjalanan itu: bagaimana perusahaan menawarkan jasa transportasi kepada masyarakat Muslim. Sementara berita tentang kematian jamaah memperlihatkan sisi lain: risiko dan persoalan yang menyertai perjalanan tersebut.

Jika kedua sumber itu dibaca bersama, kita memperoleh gambaran yang jauh lebih utuh.

Satu sumber berbicara tentang perjalanan sebagai layanan. Sumber lainnya mengingatkan kita bahwa perjalanan itu memiliki harga manusiawi. Dan sejarah berada di antara keduanya.

Kongsi Tiga dalam Sejarah Haji Nusantara

Karena itu, Kongsi Tiga tidak semestinya hanya dikenang sebagai nama perusahaan pelayaran. Ia merupakan bagian dari sejarah maritim, sejarah ekonomi, sejarah kolonial, dan tentu saja sejarah pengalaman keagamaan masyarakat Muslim Nusantara.

Di balik kapal-kapal uap itu terdapat sebuah dunia yang bergerak. Pelabuhan-pelabuhan dipenuhi jamaah. Kereta membawa calon haji menuju titik embarkasi. Kapal mengangkut mereka melintasi Samudra Hindia. Laut Merah menjadi jalan menuju Jeddah. Dari sana perjalanan dilanjutkan menuju Makkah.

Hari ini perjalanan tersebut mungkin terasa sangat jauh dari pengalaman kita. Pesawat membuat jarak Nusantara–Arab Saudi dapat ditempuh dalam hitungan jam. Tetapi bagi generasi jamaah pada awal abad ke-20, laut adalah harga yang harus mereka bayar untuk mendekati Tanah Suci. Mereka tidak memiliki kemewahan perjalanan modern. Mereka memiliki kapal. Mereka memiliki keyakinan. Dan mereka memiliki keberanian untuk berangkat.

Perjalanan Suci di Tengah Dunia Kolonial

Itulah sebabnya sejarah Kongsi Tiga sesungguhnya bukan hanya cerita tentang perusahaan pelayaran. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah perjalanan suci berlangsung di tengah dunia kolonial yang penuh kepentingan; tentang bagaimana iman bergerak melalui jalur perdagangan; tentang bagaimana kapal komersial menjadi kendaraan menuju tempat yang dianggap paling suci; tentang bagaimana pemerintah mengatur mobilitas jamaah; dan tentang bagaimana manusia biasa mempertaruhkan tenaga, uang, waktu, bahkan nyawa demi sebuah tujuan spiritual.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu melihat kembali sejarah haji Nusantara bukan hanya sebagai sejarah ibadah, tetapi sebagai sejarah perjuangan manusia untuk mencapai ibadah itu sendiri.

Sebab sebelum ada pesawat yang membawa jamaah langsung menuju Tanah Suci, ada kapal-kapal uap yang membelah samudra. Sebelum ada bandara yang ramai oleh jutaan jamaah, ada pelabuhan-pelabuhan tempat calon haji menunggu keberangkatan. Dan sebelum perjalanan haji menjadi sistem yang begitu terorganisasi seperti sekarang, ada orang-orang yang berangkat dengan membawa satu keyakinan sederhana: bahwa perjalanan sejauh apa pun layak ditempuh jika tujuannya adalah memenuhi panggilan Tuhan.

Kongsi Tiga mungkin menyediakan kapalnya. Kolonialisme menyediakan aturannya. Tetapi para jamaahlah yang membawa perjalanan itu dengan iman, keberanian, dan pengorbanan mereka.

Dan di balik setiap angka dalam arsip kolonial, ada manusia yang pernah berharap untuk sampai ke Tanah Suci.

Marsya Dwi Amailia

 

 

 

 

 

 

 

Mahasiswi Sejarah dan Peradaban Islam
Universitas Islam Negeri Kiai Achmad Siddiq Jember

WordPress Collection ProRange | Painting & Renovation Theme Pros & Cons Widget for Elementor Proshop Storefront WooCommerce Theme Prospect – Creative Multipurpose WordPress Theme ProUI – Responsive Bootstrap Admin Template ProVision Image Editor for WordPress / WooCommerce with Folders File Manager Psych – Mental Health Counselor Elementor Template Kit Psychare – WordPress Theme for Psychologists & Life Coaches PsycheKit – Psychologist & Hypnotherapy Elementor Template Kit Psycholox : Psychology & Counseling WordPress Theme