Kiai Abbas Buntet (cirebon) sang singa dari Jawa Barat dalam pertempuran Surabaya 1945
Kiai Abbas merupakan ulama kharismatik, lahir dari keluarga alim, putra sulung KH. Abdul Jamil bin KH. Muta’ad menantu pendiri pondok pesantren buntet yakni mbah muqoyyim salah seorang mufti di kesultanan Cirebon. Beliau lahir pada hari jumat tanggal 24 Dzulhijjah 1300 H/ 25 Oktober 1879 M.
Pemicu terjadinya pertempuran Surabaya 1945 dikarenakan, mulainya operasi pembersihan kekuatan blok poros di berbagai tempat dari pasukan sekutu, Namun sekutu tersebut adalah Inggris, dimana Inggris telah menandatangani sebuah perjanjian dengan Belanda terkait pemindahan kekuasaan di Indonesia dari NICA (Netherland Indies Civil Administration).
Berawal pada tanggal 25 oktober 1945 sekutu mendarat di surabaya, situasi memanas ketika sekutu mempersenjatai KNIL dan insiden terbunuhnya jenderal Mallaby.
fatwa Resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 merupakan respon para ulama tentang kondisi republik indonesia yang memprihatinkan dimana datangnya sekutu dan NICA. Menyambut hal tersebut, pada bulan November 1945 para laskar dari berbagai daerah menuju surabaya, termasuk kiai abbas dan santrinya dari cirebon yang ditunggu-tunggu oleh KH. Hasyim asy’ari
Beliau merupakan pemimpin perang dari laskar hizbullah yang dipilih langsung oleh KH. Hasyim asy’ari dan ulama lainnya. Dalam fase pertama memang kiai abbas tidak mengikuti peperangan hal ini dikarenakan jarak antara cirebon-surabaya, pada fade kedua inilah beliau sekaligus pemimpin laskar hizbullah.
Kontribusi kiai abbas dalam pertempuran tersebut adalah membentuk dan mengirim pasukan dari Cirebon ke Surabaya, membentangkan jaringan telik sandi dari Cirebon ke arah timur hingga Surabaya, menentukan waktu pertempuran, dan berhasil mengobarkan semangat para pejuang dari berbagai kalangan. Kecerdasan dan keberanian kiai abbas sehingga beliau diberi julukan Sang Singa dari Jawa Barat.













