Jombang- Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari bersama Yayasan Studi Sejarah menyelenggarakan program publik yang memperkenalkan tradisi tulis Nusantara kepada masyarakat melalui penyampaian materi dan praktik secara langsung. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan museum dengan masyarakat melalui pengenalan warisan budaya. Dalam pelaksanaannya, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti praktik dengan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Program publik tersebut mengangkat kulit pohon sebagai materi yang berkaitan dengan tradisi tulis Nusantara. Materi disampaikan sebagai bagian dari pengenalan terhadap warisan budaya, khususnya mengenai penggunaan bahan alami dalam praktik penulisan pada masa lalu. Penyampaian materi menjadi tahap awal sebelum peserta diarahkan untuk mengenal tradisi tersebut melalui kegiatan praktik. Dengan demikian, peserta memperoleh pengetahuan sekaligus kesempatan untuk mengikuti proses pembelajaran secara langsung.
Setelah materi diberikan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik. Peserta diajak untuk mengikuti proses yang berkaitan dengan materi yang telah disampaikan sebelumnya. Praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan karena memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mempelajari tradisi tulis Nusantara. Selama proses tersebut, peserta mendapatkan pendampingan agar dapat mengikuti tahapan praktik yang diberikan.
Pendampingan dalam kegiatan juga menjadi bagian dari proses pembelajaran. Peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai tradisi tulis, tetapi mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan materi yang dipelajari. Melalui perpaduan antara materi dan praktik, pengenalan warisan budaya dilakukan dengan cara yang memungkinkan peserta mengikuti kegiatan secara aktif dan memahami materi melalui pengalaman yang diberikan selama program berlangsung.
Keterlibatan peserta menjadi bagian dari relasi antara museum dan masyarakat dalam program publik ini. Masyarakat tidak hanya hadir sebagai penerima informasi, tetapi ikut terlibat dalam proses belajar melalui praktik. Kegiatan tersebut memperlihatkan fungsi museum sebagai ruang edukasi yang dapat digunakan untuk mengenalkan pengetahuan mengenai warisan budaya kepada masyarakat melalui kegiatan yang bersifat partisipatif. Peserta juga memiliki ruang untuk mengikuti kegiatan secara langsung, sehingga proses pengenalan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi.
Pengenalan tradisi tulis Nusantara melalui praktik memberikan ruang bagi peserta untuk memahami materi yang disampaikan melalui pengalaman langsung. Pengetahuan mengenai kulit pohon sebagai bagian dari tradisi tulis tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan yang memungkinkan peserta mengikuti praktik secara langsung dengan pendampingan. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari kegiatan edukasi yang mempertemukan pengetahuan tentang warisan budaya dengan keterlibatan masyarakat.
Kepala Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari, Mujiburrohman, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya museum untuk memperluas fungsi edukasi dan mendekatkan pengetahuan mengenai warisan budaya kepada masyarakat.
“Museum tidak hanya menjadi tempat untuk melihat dan mengenal koleksi, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar yang memungkinkan masyarakat berinteraksi secara langsung dengan pengetahuan yang berkaitan dengan warisan budaya. Melalui workshop ini, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai tradisi tulis Nusantara, tetapi juga memperoleh pengalaman melalui praktik yang dilakukan secara langsung,” ujar Mujiburrohman.
Menurutnya, pengenalan tradisi tulis Nusantara melalui kegiatan praktik dapat memberikan pengalaman yang berbeda bagi masyarakat karena peserta dapat memahami proses sekaligus konteks dari warisan budaya yang diperkenalkan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari program publik museum. Keterlibatan masyarakat menjadi penting agar warisan budaya tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang tersimpan di dalam koleksi atau catatan sejarah, tetapi juga dapat dipelajari, dikenali, dan diperkenalkan kembali melalui pengalaman langsung,” tambahnya.
Kegiatan yang diselenggarakan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari bersama Yayasan Studi Sejarah tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal warisan budaya, khususnya tradisi tulis Nusantara, melalui proses pembelajaran secara langsung. Penyampaian materi, praktik, serta pendampingan menjadi rangkaian yang saling melengkapi dalam kegiatan tersebut.
Melalui program publik ini, relasi antara museum dan masyarakat dibangun melalui kegiatan edukasi yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal warisan budaya secara lebih dekat. Museum tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh informasi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Tradisi tulis Nusantara kemudian diperkenalkan melalui perpaduan antara pengetahuan dan praktik, sehingga peserta dapat mengikuti proses pembelajaran yang telah disiapkan dalam program tersebut.









