Adalah Thisya Ma’isatus Sa’adah, mahasiswi program studi Sejarah dan Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, yang menolak tunduk pada keterbatasan literatur modern abad ke-19. Melalui investigasi mandiri yang penuh keterbatasan materi namun kaya akan determinasi, ia berhasil membongkar tabir peradaban kuno abad ke-9 lewat film dokumenter berjudul “Hembusan Bayu Sabda Leluhur dari Sisi Selatan Argopuro.” Karya sinematik yang sarat perjuangan darah dan air mata ini kini resmi lolos seleksi ketat program Akuisisi Pengetahuan Lokal oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penelusuran ini bermula dari sebuah anomali historis yang terus mengusik pikiran Thisya sejak menginjakkan kaki di semester awal perkuliahan. Ketika diskursus publik dan literatur lokal melulu mengaitkan Jember dengan kebudayaan Pandhalungan—sebuah asimilasi kultural akibat migrasi besar-besaran suku Madura, Jawa Panaragan, Surabaya, Mataraman, hingga etnis Tionghoa dan Arab—ia justru melihat fakta lapangan yang bertolak belakang. Keberadaan sebaran situs kuno seperti Watu Gong, Watu Kenong, Candi Deres, hingga pecahan prasasti kuno menjadi bukti bisu bahwa ada peradaban megah yang jauh lebih tua, yang seolah sengaja terabaikan dalam narasi besar sejarah Jember.
Dorongan mencari kebenaran membawa Thisya mengetuk pintu-pintu ruang dosen arkeologi, filologi, dan sosiologi di kampusnya. Namun, alih-alih mendapatkan bimbingan instan atau jawaban yang menyamankan dari meja akademisi, ia justru dihadapkan pada metode didikan yang sangat keras. Para pengajar justru menantang mentalitas penelitinya dengan kalimat singkat yang dingin: “disuruh keliling sendiri.” Kalimat yang awalnya terasa seperti penolakan itu justru menjadi pemantik api perlawanan akademik di dalam diri Thisya untuk memulai sebuah investigasi lapangan yang merangkak dari bawah.
“Itu kan masih semester awal ya… Saya itu harapannya dapet cerita langsung, eh malah disuruh muter-muter sendiri, hehehe,” kenang Thisya mengingat masa-masa sulit tersebut. Namun, ketiadaan anggaran riset dan fasilitas kampus tidak menghentikan langkah kaki sang mahasiswi baru ini. Langkah awalnya dimulai dari tradisi lisan, menggali memori kolektif orang tuanya sebelum akhirnya melakukan perjalanan jauh menemui sang kakek yang sudah sepuh demi mengumpulkan petunjuk-petunjuk awal mengenai keberadaan situs-situs yang dikeramatkan warga.
Di sinilah drama sesungguhnya di lapangan dimulai, ketika idealisme riset berbenturan keras dengan keterbatasan alat. Tanpa modal kamera profesional apalagi kru produksi yang mumpuni, Thisya mengandalkan telepon genggam Android miliknya untuk merekam data mentah dan mencatat koordinat situs. Ketika kebutuhan visual film dokumenter menuntut kualitas tinggi yang tak bisa ditawar, ia harus memutar otak dan meminjam kamera ke sana kemari, mengetuk pintu kawan demi kawan demi menyambung nafas produksinya di bawah terik matahari lereng Argopuro.
Melihat kegigihan dan kerasnya kepala Thisya yang terus bertaruh di lapangan, benteng akademik di kampusnya akhirnya luluh. Dosen pembimbingnya kemudian menyerahkan seberkas laporan kolonial Belanda kuno tentang eksploitasi purbakala di Jember. Dokumen primer itu sempat menjadi batu sandungan baru yang membuat kepalanya mendidih karena bahasanya yang asing dan rumit. “Akhirnya saya tambah pusing lagi, hehehe. Tapi tetap saya baca, sekarang kan ada AI, jadi data Belanda itu saya scan dan diterjemahkan,” cetus Thisya membagikan trik cerdiknya menjinakkan arsip kolonial lewat teknologi moderen.
Setelah berhasil merekonstruksi teks Belanda dengan bukti fisik di lapangan, Thisya menyadari bahwa menuliskan hasil investigasi ini ke dalam buku akademis yang kaku hanya akan berakhir berdebu di rak perpustakaan. Ia mengambil keputusan berani untuk mengubah pendekatan risetnya menjadi sebuah naskah visual (film script). “Dari situ ide berkembang, saya mau angkat film aja sepertinya karena menurut saya lebih mudah menulis script film daripada menulis buku, hehehe,” akunya jujur mengenai peralihan medium komunikasi sejarah tersebut.
Menyadari bahwa gugatannya terhadap sejarah Jember membutuhkan keabsahan ilmiah yang absolut, Thisya menginisiasi langkah nekat dengan membangun kolaborasi riset lintas universitas. Berbekal draf film hasil rekaman kamera pinjamannya, ia sukses meyakinkan Ismail Lutfi, seorang pakar arkeologi terkemuka dari Universitas Negeri Malang (UM), untuk turun langsung ke lapangan. Kehadiran arkeolog senior ini bertindak sebagai verifikator ilmiah yang menguliti lapisan sejarah materiil dari situs Watu Gong dan Watu Kenong, memberikan bobot empiris yang mematikan keraguan para kritikus sejarah lokal.
Dokumenter “Hembusan Bayu Sabda Leluhur dari Sisi Selatan Argopuro” pada akhirnya menjelma menjadi sebuah laporan investigasi sejarah yang sangat dramatis dan komprehensif. Film ini berhasil memotret bagaimana peradaban agraris dan spiritualitas kuno di Jember telah eksis ratusan tahun sebelum istilah “Pandhalungan” itu sendiri lahir ke dunia. Sinergi antara ketajaman analisis sejarah Islam dari UIN KHAS Jember dengan metodologi arkeologi murni dari UM Malang berhasil memetakan ulang koordinat historis wilayah tersebut secara radikal.

Pengakuan tertinggi atas air mata dan keringat di lapangan ini datang ketika BRIN menyatakan film karya Thisya lolos dalam program Akuisisi Pengetahuan Lokal. Keberhasilan menembus seleksi nasional yang terkenal kejam dan ketat ini membuktikan satu hal: bahwa keterbatasan alat bukanlah pembunuh mimpi. Melalui perpaduan sebuah HP Android, kamera pinjaman, kecerdasan buatan, dan keberanian mendobrak tradisi, mahasiswi semester awal ini telah membuktikan bahwa sejarah tidak hanya milik mereka yang berfasilitas mewah, melainkan milik mereka yang berani melangkah mencari kebenaran.

Namun, Thisya menegaskan bahwa dirinya tidak berjalan sendirian dalam kesunyian malam riset lereng Argopuro. Di balik layar film dokumenter yang berdarah-darah ini, berdiri sebuah tim kokoh yang diisi oleh barisan senior tangguh penopang produksinya. “Sebenarnya ada banyak tim di balik layar tersebut, senior-senior saya yang sangat berperan besar. Ada Mas Jergian Jodi, Mas Gaza, Mas Imam, Mbak Exlim, Mas Lukman, Mas Agus, Mas Noval, dan Mas Miftah. Kebetulan saja di proyek ini saya yang bertindak sebagai sutradaranya,” ungkap Thisya, meluruskan bahwa mahakarya ini adalah buah dari kerja kolektif yang luar biasa.










