Jember, 14 September – Akademisi dari Yayasan Kulit Pohon membuka tabir narasi sejarah lokal di Jember. Mereka memberikan pandangan bahwa Jember tidak hanya dikenal sebagai daerah berjulukan Pandhalungan, tetapi juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan keislaman serta tradisi yang telah ada secara turun-temurun dan bertahan di Jember.
Penemuan ini diperoleh akademisi sejarawan UIN KHAS yang juga anggota Yayasan Sejarah Kulit Pohon melalui penelaahan sumber-sumber sejarah yang dihimpun, lalu dikembangkan menjadi artikel. Penelitian ini dilakukan agar masyarakat Jember dapat melihat sisi lain Jember yang kaya akan nilai historis dan budaya.
Salah satu anggota Yayasan Kulit Pohon, Atana Ridollloh Kamila, mengungkap respons masyarakat perkebunan di Jember terhadap wabah kolera, khususnya di Desa Badean pada 1875–1911.
Pembahasan lain menyoroti perkembangan Islam di Jember dari segi tarekat pada abad ke-20 melalui naskah kuno Dedalan. Naskah tersebut berhasil dikaji oleh Mar’atul Mahmudah, sejarawan dari UIN KHAS.
Ashfa Ashfiyatush Shofiyyah juga tak kalah menarik dalam membahas pemikiran fikh yang dikombinasikan dengan narasi sejarah melalui etika dalam mengelola salah satu pariwisata di badean dari data tahun 2016 hingga 2025.
Keberanian mengungkap sejarah lokal ini dibawa hingga ke panggung internasional yang mempertemukan akademisi nasional dan internasional. Melalui forum tersebut, para akademisi memperkenalkan dan mengangkat bahwa Jember memiliki nilai historis yang unik dan menarik untuk diceritakan.
“Kehadiran narasi peradaban Islam melalui pendekatan sejarah memperluas khazanah keislaman. Narasi itu tidak hanya diambil dari sudut pandang di luar Jember, tetapi argumen bahwa Jember yang berkaitan dengan Islam pun memiliki alur cerita yang kuat posisinya melalui sumber lokal,” ujar Mar’atul Mahmudah, sejarawan UIN KHAS.
Di panel lain, Mila menjelaskan bahwa para pekerja di bawah naungan Belanda pada akhir abad ke-19 tidak memperoleh jaminan kesehatan yang baik. Ia juga memaparkan wabah kolera yang pernah berdampak di Jember.
Ruangan lain mempertemukan gagasan keislaman dari sejarah kontemporer yang disandingkan dengan etika dari tahun 2016-2025, Ashfa menjelaskkan bahwa kehadiran Islam yang berkiatan dengan isu pun turut bisa di angkat melalui pendekatan sejarah.
Sebagian masyarakat melupakan masa lalunya sendiri. Melalui penelitian ketiga akademisi tersebut, masyarakat dapat mengambil pelajaran dari isu-isu sejarah yang kerap terlupakan itu. Pembelajaran sejarah tidak hanya menjadi koleksi dalam buku-buku sekolah, tetapi juga dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Dari sana, masyarakat dapat memahami landasan perjuangan nenek moyang yang tidak hanya diwujudkan melalui narasi peperangan. Kekayaan narasi sejarah lainnya juga turut mewarnai perjalanan mereka, selain kisah-kisah tersebut.
Melalui kajian-kajian tersebut, para akademisi berharap masyarakat dapat melihat Jember secara lebih utuh. Jember tidak hanya dikenal sebagai wilayah Pandhalungan, tetapi juga memiliki jejak keislaman dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan bertahan hingga kini. Dengan membawa sejarah lokal ke forum internasional, mereka berharap nilai historis dan budaya Jember semakin dikenal serta layak untuk terus diceritakan.












