Beranda / Berita / Menghidupkan Kembali Ingatan Kolektif Nasional “Lontar Sri Tanjung”

Menghidupkan Kembali Ingatan Kolektif Nasional “Lontar Sri Tanjung”

BANYUWANGI – Kekayaan literasi dan spiritualitas Nusantara kembali mendapatkan tempat terhormat di panggung nasional. Naskah kuno Lontar Sri Tanjung, yang merupakan living manuscript (naskah hidup) asli dari kebudayaan masyarakat Banyuwangi, telah resmi ditetapkan oleh Perpustakaan Nasional RI sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Penetapan strategis ini mempertegas nilai penting naskah tersebut sebagai bagian dari memori kolektif sejarah, akar budaya, serta jati diri bangsa Indonesia yang kini sedang diupayakan melangkah menuju pengakuan internasional sebagai Memory of the World oleh UNESCO.
Sebagai wujud perayaan, pelestarian, sekaligus pertanggungjawaban publik atas status baru ini, sebuah program kebudayaan komprehensif bertajuk “SRI TANJUNG URUP SEKAR” resmi digelar. Program ini merupakan hasil sinergi yang didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui skema pendanaan makro, seperti Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Program Layanan Produksi Media Kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau Objek Pemajuan Kebudayaan Rawan Punah, serta Dana Indonesiana.
Perjalanan panjang program yang berlangsung sejak Januari hingga Oktober 2026 ini mencapai salah satu momen puncaknya pada Sabtu, 26 September 2026. Bertempat di Pesinauan, Dusun Joyosari, Desa Olehsari, Kabupaten Banyuwangi—sebuah kawasan yang dikenal kental dengan denyut tradisi lokalnya—panitia menyelenggarakan acara Diseminasi Publik. Dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, malam diseminasi tersebut menjadi ruang pertemuan multidimensi yang mempertemukan ritus kuno dengan masyarakat modern secara interaktif.
Dalam malam puncak tersebut, panitia menyajikan rangkaian agenda yang padat nilai edukatif dan estetis, mulai dari peluncuran buku kajian mendalam, pemutaran film dokumenter, hingga diskusi publik interaktif. Sebagai pemungkas eksotis, para hadirin disuguhi pertunjukan fragmen lukat Sri Tanjung, sebuah representasi seni pertunjukan yang mengangkat ritus penyucian diri berdasarkan teks kuno tersebut. Kehadiran masyarakat setempat membuktikan bahwa teks ini memiliki keterikatan batin yang kuat dengan masyarakat pemilik kebudayaannya.
Keberhasilan malam diseminasi publik rupanya bukan akhir dari edukasi kebudayaan ini karena ruang eksibisi di Olehsari dipastikan masih beroperasi penuh. Hal ini ditegaskan langsung oleh Wiwin Indiarti, selaku penggagas sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, di sela-sela kunjungan kerjanya di Jember pada Selasa, 29 September 2026. Wiwin menyampaikan pesan dan harapan yang mendalam agar momentum kultural ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh sektor akademisi dan penggerak literasi di wilayah Tapal Kuda.
“Kegiatan pameran kebudayaan ini masih berjalan penuh di lokasi sampai nanti tanggal 2 Oktober 2026. Kami sangat berharap teman-teman pemuda, mahasiswa, hingga rekan dosen bisa meluangkan waktu datang langsung ke Pesinauan untuk melihat pameran di sana,” ujar Wiwin. Menurutnya, keterlibatan aktif dari generasi muda dan kalangan intelektual perguruan tinggi sangat krusial agar Lontar Sri Tanjung tidak berakhir menjadi sekadar benda mati yang tersimpan di ruang arsip, melainkan terus hidup dan dikaji.
Di sela kunjungan kerjanya di Jember tersebut, Wiwin Indiarti juga melakukan aksi nyata dalam memperluas jangkauan literasi Lontar Sri Tanjung dengan menyerahkan karya akademisnya. Dosen sekaligus peneliti budaya ini secara simbolis menitipkan 2 ekssemplar buku Sri Tanjung karyanya kepada Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon di Jember. Langkah ini diambil sebagai jembatan kultural agar hasil kajian dari Banyuwangi dapat diakses lebih luas oleh para peneliti sejarah di kabupaten tetangga.
Apresiasi mendalam langsung disampaikan oleh Dimas Permadi, salah satu anggota Yayasan Kulit Pohon, yang menerima langsung penyerahan buku riset tersebut. “Terima kasih banyak oleh-olehnya dari Banyuwangi. Buku ini akan kami masukkan menjadi koleksi perpustakaan kami dan menjadi tambahan asupan referensi, khususnya di bidang sejarah,” ungkap Dimas. Donasi buku ini diharapkan mampu memicu kolaborasi riset sejarah yang lebih tajam antarpeneliti di masa mendatang.
Sementara itu, bagi para pengunjung yang hadir ke Pesinauan sebelum pameran resmi ditutup pada akhir pekan ini, mereka akan disuguhkan lanskap informasi yang kaya dan sarat makna melalui eksibisi arsip visual. Pameran ini dirancang secara tematis untuk membedah anatomi naskah melalui visualisasi fisik teks beraksara Pegon hasil alih aksara, serta kajian komparatif versi pelestarian teks Banyuwangi yang bersumber dari koleksi penting milik kolektor lokal, Wahyu Naga Pratala Sukma.
Selain fisik naskah, pameran juga menghadirkan dokumentasi foto-foto lawas, catatan kolonial, benda-benda memorabilia sejarah, serta instalasi sinema dokumenter berdurasi 20 menit yang diputar berkala mengenai tradisi mocoan dan ritual lukat. Pameran kebudayaan ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya. Sisa waktu hingga hari Jumat mendatang menjadi kesempatan emas bagi publik untuk mengapresiasi langsung warisan budaya yang kini telah sah menjadi milik ingatan kolektif bangsa.
Tag:
WordPress Collection Envira Gallery | Fullscreen Addon Envira Gallery | Gallery Themes Addon Envira Gallery | Lightroom Addon Envira Gallery | NextGEN Importer Addon Envira Gallery – Pagination Addon Envira Gallery | Password Protection Addon Envira Gallery | Pinterest Addon Envira Gallery | Proofing Addon Envira Gallery | Protection Addon Envira Gallery | Schedule Addon