Sunan Kalijaga telah mendedikasikan dirinya untuk berdakwah kepada masyarakat Jawa dengan caranya sendiri. Ia lebih memilih untuk keluar istana Tuban yang sebenarnya digadang-gadang menjadi Bupati. Ketika meninggal, Sunan Kalijaga dimakamkan di Astana Kadilangu, Kabupaten Demak.
–
Ada hal menarik tentang makam Sunan Kalijaga ini, ternyata keberadaan makam tersebut sangat penting bagi kerajaan Mataram Islam dan keturunannya. Hal itu tercatat dalam Babad Tanah Jawi Meinsma 1874.
“Sanadyan sakèhing pusaka ginawa kabèh, sok mingsiha masjid ing Dêmak karo astana ing Adilangu, amung loro iku ugêre pusaka ing tanah Jawa…”
Konteks petikan babad tersebut menceritakan bahwa saat itu Amangkurat III telah diasingkan oleh VOC ke Sri Lanka. Pada momen itu banyak pusaka-pusaka Keraton Kartasura (Mataram) dibawa bersamanya. Pakubuwana I yang saat itu bertahta menggantikan Amangkurat III tidak risau walaupun kepergian keponakannya membawa pusaka-pusaka itu. Pakubuwana I berpendapat bahwa selama pusaka tanah Jawa yang utama yaitu Masjid Demak dan Astana Kadilangu masih ada, masih aman-aman saja.
–
Melihat hal itu menunjukkan bahwa pentingnya kedua situs, Masjid Demak dan Astana Kadilangu ini bagi kerajaan Mataram dan turunannya. Kedua situs ini penting karena beberapa hal, yaitu: Masjid Demak dianggap sebagai ‘titik balik’ islamisasi di tanah Jawa sehingga para raja Mataram menganggap penting untuk merawatnya, dan pembangunan masjid ini juga dibantu oleh para Walisanga.
–
Kemudian untuk Astana Kadilangu (Makam Sunan Kalijaga) cukup penting karena di dalamnya bersemayam ‘guru spiritual’ utama orang Jawa yang sangat dihormati dibandingkan dengan wali-wali lainnya. Semangat dakwah dan ilmu dari Sunan Kalijaga ini sangat ‘diugemi’ oleh Raja-Raja Mataram dan turunannya, salah satu alasannya adalah karena pendiri kerajaan Mataram dibimbing langsung oleh Sunan Kalijaga. Maka dari itu di pembahasan Sunan Kalijaga dua hari yang lalu mimin menyebutkan bahwa ada beberapa kelompok dan keturunan menganggap Sunan Kalijaga adalah guru sejati.
Pentingnya merawat dua situs tersebut tidak hanya berhenti di Kerajaan Mataram saja, Raja-raja selanjutnya masih memugarnya (juga membangun kembali), bahkan termasuk penguasa pasca kolonial terutama Soeharto turut serta merawatnya dan berlanjut hingga sekarang.











