Angkringan berasal dari angkring, alat atau tempat jualan makanan dan minuman secara keliling yang dipikul atau dibawa dan berbentuk melengkung ke atas. Angkringan awalnya dibawa oleh seseorang dari Desa Ngarengan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten Jawa Tengah Bernama Karso Dikromo atau Karso Djukut tahun 1930-an.. Djukut memutuskan untuk merantau ke wilayah Solo demi menyambung hidup. Kondisi perekonomian di desa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan. Saat pertama datang di Solo Djukut bekerja sebagai petani dan juga merawat kerbau milik juragan terikan di Laweyan, Solo. Berkat ketekunannya sang juragan memberi kesempatan Djukut untuk menjual terikan miliknya. Dari sinilah Djukut mulai berinovasi mengganti cara ia berdagang. Dari yang mulanya disunggi di atas kepala dan membawa cerek, beralih membuat pikulan untuk menjajakan dagangannya.
Sebelum terkenal dengan sebutan angkringan, kegiatan ini dinamai “hik” (Hidangan Idaman Ala Kampung). Ternyata usaha angkringan berkembang pesat, sehingga dia merekrut teman sekampung bernama Wiryo Je. Peran Wiryo menjadi “Prembe”, yaitu orang yang membantu jalannya angkringan. Ditengah kegiatannya mejadi seorang prembe Wirygo mendapatkan inspirasi cara meracik teh dan jahe oplosan yang menjadi menu selalu ada di setiap angkringan kini.
Kesuksesan Djukut dalam membuka usaha hik atau angkringan tersebar luas hingga sampai pada pemuda bernama Pairo. Kemudian, Pairo berinisiatif membuka angkringan di Yogyakarta sekitar tahun 1950-an. Semula Pairo berkeliling membawa jualannya dengan dipikul mengelilingi stasiun tugu Jogja. Untuk menarik pembeli berdatangan Pairo berteriak Ting.. Ting.. hik. Dari sinilah orang banyak berdatangan. Angkringan atau hik Pairo semakin dikenal lewat mulut ke mulut, oleh karena itu dia memutuskan untuk membuka pangkalan.
Penulis: @an_niitaaa












