Sebelum Indonesia merdeka, strategi perang gerilya sudah digunakan dalam beberapa konflik regional. Penggunaan taktik gerilya dalam strategi perang terbukti efektif karena mampu mengelabui dan menipu musuh, serta menjalankan sabotase secara cepat. Faktanya, taktik semacam ini sangat berguna ketika menyerang musuh yang lebih besar sebagaimana pada peristiwa Perang Jawa, Perang Padri, dan Perang Aceh.
Perang gerilya dilakukan dengan cara yang tidak menentu, dengan muncul dan menghilang di berbagai area pertempuran, sehingga musuh sulit untuk mengantisipasinya secara tepat. Untuk menjalankan strategi ini, pasukan gerilya sangat bergantung pada pangkalan-pangkalan yang dibangun oleh masyarakat lokal.
Intinya, melalui taktik perang gerilya ini, pasukan akan membuat musuh merasa tertekan karena serangan-serangan dilakukan dengan cara yang tidak terduga dan tidak terlihat secara langsung. Misalnya, dalam Perang Padri di Sumatera Barat, musuh dihadapi dengan membagi pasukan menjadi kelompok-kelompok kecil yang menyerang secara tak terduga.
Perang Aceh juga menerapkan taktik menguasai medan perang, khususnya hutan, dan menggunakan penyamaran untuk memperdaya musuh.
Pada proses penerapan taktik gerilya saat Perang Padri, para masyarakat menerapkan taktik Hit & Run yakni dengan melakukan sebuah penyerangan dan kemudian lari dan berpindah tempat.
Mereka juga membagi pasukan menjadi kelompok-kelompok kecil yang menyerang secara tak terduga. Perlawanan oleh kaum Padri dipimpin oleh Muhammad Shahab atau Tuanku Imam Bonjol. Taktik gerilya juga diterapkan oleh Teuku Umar pada tahun 1881 dimana perang Aceh dimulai sejak tahun 1873 dan penerapan strategi tersebut sangatlah efektif. Pada tahun 1881, pasukan Aceh di bawah pimpinan Teuku Umar, Panglima Polim, dan Sultan, melancarkan perang gerilya melawan Belanda. Teuku Umar, pada waktu itu, pura-pura bersekutu dengan Belanda agar bisa memperoleh senjata dari mereka.
Pada saat perang Jawa yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro ketika melawan Belanda juga menggunakan taktik perang gerilya dan memusatkan pertahanannya di Gua Selarong. Taktik ini terbukti berhasil karena pasukan Pangeran Diponegoro mampu mendorong Belanda ke wilayah Pacitan. Selain itu, mereka juga menggunakan strategi menarik saat musim hujan tiba. Strategi ini memanfaatkan situasi alam untuk menguntungkan mereka, dengan menyebabkan musuh sulit melihat dan rentan terhadap penyakit seperti disentri dan malaria. Ini bisa melemahkan kesehatan dan semangat, bahkan bisa berujung pada kehilangan nyawa.






