Di salah satu desa di Kabupaten Jember, terdapat temuan 17 batu yang telah di pindahkan dari tempat aslinya. Satu batu berada di lereng bukit, tepian dari taman desa dengan posisi miring dan bersandar. Batu–batu ini pada awalnya dipenuhi dengan rumput yang menutupi bagian batunya, kemudian setelah dibersihkan ternyata terdapat 3 jenis batu yang berlubang. Diantara 3 batu tersebut, 1 berukuran besar, 1 batu berukuran sedang dan 1 batu berukuran kecil.
Selain itu, terdapat 1 batu dengan posisi terbalik, dan ketika batu itu diangkat dan dibalik ternyata batu tersebut memiliki lubang yang lebih dalam dibandingkan dengan batu lainnya dan dengan kondisi batu yang sudah terbelah (pecah). Setelah diperiksa lebih mendalam lagi, ternyata masih ada batu yang masih dalam keadaan terbalik, terdapat 2 batu yang berada dalam keadaan terbalik, 1 memiliki lubang dan 1 lagi serupa batu kenong. Temuan batu peninggalan tradisi Megalitik.
Dari 17 batu yang ditemukan, batu yang terbesar berukuran panjang 88cm, lebar 75 cm dan tinggi 53cm. Sedangkan batu terkecil berukuran panjang 28cm, lebar 9cm dan tinggi 10cm. Batu tersebut terkumpul di suatu tempat dengan jenis batu yang sama dan warna yang sama pula, yakni abu–abu kehitaman, batu tersebut merupakan jenis batuan andesit dan ada batu yang berjenis Kalium Feldspar.
Objek tersebut diduga batu kenong karena pada permukaan batu terdapat tonjolan menyerupai kenong pada alat musik gamelan, belum diketahui pasti apa fungsi dari batu kenong tersebut. Sedangkan batu lesung memiliki bentuk yang cekung kedalam menyerupai lesung, belum diketahui secara pasti juga apa fungsi dari batu lesung ini.
Di Jember sendiri banyak ditemukan peninggalan tradisi megalitik, selain Desa tersebut, temuan serupa sebelumnya ditemukan di daerah Arjasa yang kini lebih dikenal dengan situs Duplang dan terdapat pula di wilayah Kreongan. Desa tersebut memiliki potensi tinggalan tradisi Megalitik yang cukup luar biasa jika dikaji lebih mendalam dan dikelola dengan baik,dan harus ada kerjasama antara para pegiat sejarah, pemerintah dan masyarakat desa.











