Beranda / Kegiatan / MENGENAL SITUS RAOS PACINAN SEBAGAI TEMPAT PERSINGGAHAN RADEN WIJAYA

MENGENAL SITUS RAOS PACINAN SEBAGAI TEMPAT PERSINGGAHAN RADEN WIJAYA

JEMBER – Sebuah ironi besar terjadi dalam dinamika akademis hari ini. Di saat Situs Raos Pacinan—saksi bisu tempat peristirahatan Raden Wijaya saat menyelamatkan diri dari kejaran pasukan Jayakatwang—terancam tenggelam oleh zaman, para calon penyelamatnya justru sempat sibuk dengan urusan “kamar” masing-masing.
Sebagian mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) UIN KHAS Jember menggelar diskusi sukarela di sekretariat Yayasan Sejarah Kulit Pohon, Perumahan Alam Hijau blok G7, Dusun Botosari, Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi, Jember. Namun, peristiwa pertemuan hari ini berjalan lambat karena penyakit khas mahasiswa modern yaitu ego sektoral.
Alih-alih langsung berfokus pada nasib situs purbakala yang telantar, forum sempat diwarnai kecenderungan mahasiswa yang terlalu asyik dengan batasan fokus kajiannya sendiri-sendiri, mulai dari spesialis sejarah musik, sejarah tari, sejarah fashion, hingga sejarah perang. Kritik tajam bagi dunia  mahasiswaan hari ini, di mana sebuah situs purbakala yang utuh hampir luput diselamatkan hanya karena para calon sejarawan ini terlalu sibuk mengotakkan diri ke dalam minat yang super spesifik. 
Menatap Arca Kesepian di Pasuruan

Beruntung, kesadaran kolektif akhirnya muncul. Fokus mereka berhasil disatukan oleh kondisi miris Situs Raos Pacinan yang terletak di Dusun Raos Lama, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Situs bersejarah berbentuk persegi panjang selebar 800 meter yang berjarak 50 meter dari aliran Sungai Brantas-Porong ini, kondisi terbarunya hanya menyisakan sepasang arca Dwarapala yang menghadap ke barat. Ironi peristiwa hari ini terlihat jelas: di saat mahasiswa sejarah sibuk berdiskusi di ruangan nyaman di Jember, sepasang arca penjaga di Pasuruan tersebut justru sedang “kesepian” menghadapi ancaman pelapukan tanpa ada pembuktian ilmiah yang pasti dari generasi muda.
Saat dikonfirmasi di sela-sela diskusi, Yafi, salah satu mahasiswa SPI yang ikut dalam kegiatan tersebut, memberikan pembelaan yang cukup menggelitik terkait perdebatan ego fokus kajian di dalam forum.

“Awalnya kami memang tidak bisa kritis terhadap situs ini, Mas, karena fokus kajian kami beda-beda. Teman-teman yang fokusnya di sejarah tari, misalnya, ya cuma bisa melihat arca dari sudut pandang estetika postur tubuhnya saja, tidak bisa menganalisis nilai historisnya secara mendalam. Jujur saja, tadi sempat bingung bagaimana mengaitkan sepasang arca Dwarapala yang telanjang dada menghadap barat itu dengan tren tari kuno atau baju adat masa kini. Baru setelah didebat, kami sadar kalau situs ini darurat untuk diselamatkan, bukan untuk dikritik koreografinya,” ujar Yafi sembari tertawa canggung.

Melawan Mitos: Beban Berat Mahasiswa Zaman Now
Peristiwa sejarahnya sudah sangat jelas dan valid secara tutur turun-temurun: tempat ini adalah saksi penting pelarian Raden Wijaya, sang pendiri Kerajaan Majapahit, yang tertulis dalam peta sejarah sebagai “Rubat Carat” (kini dikenal sebagai Desa Carat). Namun, kritik terbesar dari peristiwa hari ini adalah fakta bahwa narasi sehebat itu masih berstatus “diyakini masyarakat” saja, karena belum ada tindakan nyata yang masif dari dunia akademis kampus untuk membuktikannya.
Melihat dinamika diskusi yang sempat melantur ke mana-mana, Muhammad Naufal Luthfan R, S.Hum., selaku senior pembimbing yang mengawal jalannya kegiatan tersebut langsung memberikan tamparan keras. Beliau bukan orang sembarangan—pria dengan gelar sarjana humaniora ini dikenal luas sebagai seorang sejarawan, mahir menyunting dan menulis buku sejarah, sekaligus pemilik dari lini penerbitan berwawasan kultural, LSSK Murtasiya (Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya) Di tengah keahliannya merawat teks sejarah agar bernilai kontemplatif dan lintas zaman, Naufal justru harus geleng-geleng kepala melihat juniornya yang masih amatiran dalam mengelola forum. Ia pun angkat bicara :
“Ini kritik dan evaluasi besar buat teman-teman mahasiswa. memiliki fokus kajian seperti tari atau musik itu boleh, Jangan sampai arca Dwarapala di Pasuruan itu besok mutasi jadi penari latar gara-gara diteliti sama anak sejarah spesialis tari! ya..jangan sampai perbedaan fokus itu membuat logika kritis kalian tumpul saat dihadapkan pada peninggalan purbakala yang nyata. Publik hari ini tidak butuh mahasiswa yang sekadar gelar diskusi sukarela demi menggugurkan kewajiban moral. Tantangan nyata setelah hari ini adalah pembuktian:yang saya maksud tumpul itu nalar sejarahnya lo ya..tegas Naufal dengan nada serius kemudian di tutup dengan tawa.

Dampak diskusi hari ini memang berhasil memperluas wawasan mahasiswa SPI UIN KHAS Jember. Namun, tantangan menohoknya tetap sama: apakah setelah peristiwa hari ini, Yafi dan rekan-rekan mahasiswanya mampu mengangkat narasi Situs Raos Pacinan ke tingkat nasional? Ataukah bimbingan keras dan tamparan literasi dari Muhammad Naufal Luthfan R, S.Hum. hari ini hanya akan berakhir menjadi coretan nota rapat yang berdebu di sekretariat yayasan?
Ditya
Tag:
WordPress Collection Image Hotspot and Tooltip for WPBakery Page Builder Image Hover Effects for Avada Builder Image Hover Elements for Elementor Image Magnify WordPress Plugin Image Map HotSpot with Lightbox WordPress Plugin Image Map Pro for WordPress | Interactive Image Map Builder Image Overlay Addon For Elementor Image Showcase for Cornerstone Image Slider Plugin For WordPress Image Toggle – Addon for WPBakery Page Builder