Perfilman di Hindia Belanda: Dari Tahun 1900 sampai 1942
Film menjadi sarana hiburan yang banyak digemari. Industri ini dalam perjalanan sejarahnya, telah banyak mengalami pasang surut. Era awal perfilman Hindia Belanda ini diawali dengan berdirinya bioskop pertama di Hindia Belanda pada 5 Desember 1900. Ditandai dengan iklan di surat kabar Bintang Betawi pada 4 Desember 1900 yang menampilkan pengumuman bahwa Nederlandsch Bioscoop Maatschappij akan memutar sebuah film di sebuah rumah di Tanah Abang Kebondjae, Batavia. Film yang dimainkan ketika itu adalah film dokumenter tanpa suara perjalanan ratu dan raja Belanda di Den Haag. Sebagai “barang ajaib” tentu saja “Gambar Idoep” ini cukup mengejutkan dan menarik minat banyak orang untuk menyaksikannya sebagai hiburan.
-1901 = Pemutaran film masih dilakukan secara berkeliling, belum memiliki gedung permanen. Harga karcisnya: f 0,5 untuk orang Tionghoa dan f 0,25 untuk orang Islam (pribumi dan Islam).
-1903 = Untuk mendorong kelas atas yang memiliki selera menonton film, dibangun sebuah bioskop profesional pertama bernama The Royal Bioscope.
-1916 = Sejak awal film-film impor (Amerika dan eropa) sudah mendominasi bioskop di hindia Belanda sehingga pemerintah membentuk Ordonansi Bioscoope untuk mengatur masuknya film-film asing.
-1926 = mulai ada upaya-upaya untuk memproduksi film sendiri di Hindia Belanda. Menurut Misbach Yusa Biran Film pertama yang diproduksi di Indonesia pada masa Hindia Belanda adalah Film yang berjudul Loeteong Kasarung yang menyajikan legenda terkenal asal Jawa Barat dibuat oleh L. Heuveldorp dan G. Krugers di Bandung pada di bawah naungan Java Film Company. Pembuatan film ini mendapat dukungan dan bantuan besar dari Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Penayangan perdana dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927.
Sejak keberhasilan Loetoeng Kasaroeng, industri perfilman semakin populer. Semakin banyak bermunculan film-film produksi Hindia Belanda, antara lain, Lily van Java (1928), Ria Rago (1929), dan Nyai Dasimah (1929). Film pada era ini didominasi oleh legenda rakyat dan kisah drama tragedi.
-1930 = prospek cerah yang ditawarkan oleh bisnis film semakin menggoda para pengusaha china untuk terlibat didalamnya. Ini adalah masa berkembangnya industri perfilman di Hindia Belanda. Muncul banyak bioskop dan perusahaan perfilman di Hindia Belanda, yang sebagian besar dimiliki oleh orang etnis Tionghoa.
-1931 = Film bicara di Hindia Pertama lahir dengan film yang berjudul Atma de Vischer.
-1934 = Pada 13 September, Perkumpulan Pengusaha Bioskop Hindia Belanda atau Nederlandsch Indische Bioscoop-bond didirikan.
-1937 = Film Terang Boelan rilis, film ini sukses menjadi box Office, diputar di Hindia dan Singapura.
-1941 = Masa keemasan perfilman di Hindia Belanda dengan tercatat sebanyak 41 judul film yang diproduksi dalam 1 tahun.
-1942 = Masa pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang, Sehingga seluruh kebudayaan barat dilarang, termasuk impor film-film yang kebanyakan dari Amerika.
Demikianlah gambaran sejarah perkembangan perfilman di Hindia Belanda dari masa ke masa.













