Supersemar adalah singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret. Surat ini merupakan sebuah dokumen sejarah yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan politik Indonesia, tepatnya pada era pemerintahan Presiden Soeharto. Indonesia mengalami banyak peristiwa kelam pasca kemerdekaan, mulai dari agresi militer, inflasi, hingga konfrontasi dengan pembentukan federasi Malaysia.
Pemerintahan Soekarno, yang dipenuhi dengan ideologi nasionalisme dan politik non-blok, mulai terpukul oleh krisis ekonomi dan konflik internal. G30S PKI merupakan salah satu sejarah mengerikan yang pernah terjadi di Indonesia. Jumlah total korban jiwa akibat dari tragedi itu belum dapat diketahui secara pasti, namun diduga mulai dari puluhan hingga ratusan ribu nyawa masyarakat Indonesia tewas oleh tindakan partai komunis tersebut.
Ketegangan politik meningkat dibuktikan pada tanggal 30 September 1965, yaitu upaya kudeta yang diduga dilakukan oleh anggota PKI terhadap angkatan bersenjata Indonesia, termasuk pembunuhan 6 jenderal 1 perwira yang dianggap sebagai lawan politik PKI.
Ketegangan politik semakin meningkat, mengingat aksi demonstrasi dari masyarakat dan sekelompok mahasiswa yang mengeluarkan 3 tuntutan atau tritura, isi dari tritura sendiri yaitu tuntutan untuk membubarkan PKI, menurunkan harga kebutuhan pokok, dan perombakan kabinet Dwikora. Gelombang demonstrasi semakin massif seiring tindakan presiden Soekarno yang reaktif dan provokatif dengan gerakan mahasiswa.
Sekitar pukul jam 1 malam di Istana Bogor, presiden Soekarno mendapati beberapa tokoh petinggi TNI AD yang ingin menemuinya. Beberapa diantaranya Jendral M Yusuf, Jendral Amir Machmoed, Jendral Basuki Rachmat, dan Jendral M Pangabean. Para Jendral teresebut nekat menemui presiden Soekarno pada dini hari karena situasi negara benar-benar sangat tidak stabil, mereka meminta presiden Soekarno untuk menandatangani surat perintah sebelas Maret.
Surat ini secara resmi memberikan wewenang kepada Mayor Jenderal Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat, untuk mengambil alih kendali pemerintahan. Surat ini dianggap sebagai peralihan kekuasaan yang menandai akhir dari kepresidenan Soekarno dan awal dari era Soeharto menjadi presiden.
Dengan demikian, sejarah Supersemar menceritakan, tetapi juga mencerminkan kompleksitas politik dan sosial negara tersebut. Sebagai bagian integral dari sejarah Indonesia, Supersemar tetap menjadi topik yang kontroversial dan dipelajari secara luas oleh para sejarawan dan analis politik.






