Penggunaan penutup kepala pada masa kerajaan merupakan perwujudan dari sapta chakra, yang dimana kepala adalah bagian tubuh manusia yang utama atau bagian tubuh yang suci. Penggunaan penutup kepala pada masa kerajaan juga tergambarkan secara baik pada relief candi ataupun pada . Berbagai ragam bentuk penutup kepala yang tergambar pada relief candi maupun arca, salah satu jenis penutup kepala yang tergambar adalah topi tekes.
Topi tekes adalah salah satu penutup kepala yang dikenakan oleh kaum pria pada masa kerajaan Majapahit. Dimana topi tekes bukanlah aksesoris berpakaian taraf lengkap melainkan aksesoris berpakaian taraf menengah. Pada aksesoris berpakaian taraf menengah topi tekes digunakan bersama dengan anting atau subang dan kalung atau hara. Bagian depan dan belakang topi tekes sendiri yaitu berbentuk lancip untuk bagian samping memiliki bentuk seperti bulan sabit.
Tokoh yang biasanya memakai topi tekes adalah tokoh Panji dalam relief yang menceritakan cerita panji akan tetapi pada candi Jabung topi tekes juga dikenakan pada tokoh tokoh dalam cerita Sri Tanjung. Namun, tidak hanya tokoh Panji saja yang mengenakan topi tekes melainkan terdapat fitur di dalam candi yang dimana terdapat tokoh bangsawan yang memakai topi tekes tersebut. Hal tersebut menandakan topi tekes ini tidak hanya sebagai pelengkap dalam berbusana pada masa kerajaan Majapahit melainkan menunjukkan status sosial dari pemakainya. Status sosial yang diberikan oleh topi tekes adalah seorang bangsawan bagi penggunanya.











