Bulan syawal merupakan bulan dimana tradisi-tradisi banyak terlaksana pada bulan tersebut. Seperti halal bi halal, ter-ater, ziarah makam dan masih banyak yang lainnya. Namun ada juga tradisi yang sering dilaksanakan oleh sebagian kecil masyarakat jember. Terutama di desa yang memiliki basis keturunan madura, seperti halnya di desa suco krajan, jember yaitu tradisi Tompokan
Tradisi ini merupakan penyembelihan sapi yang dibeli dengan cara iuran/patungan dari masyarakat secara bersama. Mereka membagi daging secara merata setelah sapi disembelih. Tradisi ini berakar kuat di wilayah Madura seperti Jember. Acara dilakukan sebelum Ramadhan berakhir untuk menyambut bulan syawal datang dan merayakan hari idul fitri, dengan masyarakat saling bahu-membahu dalam proses pemotongan dan distribusi daging. Meskipun lama, tradisi ini tetap berlanjut, membantu stabilkan harga daging saat menjelang lebaran.
Istilah tompokan sendiri diambil dari bahasa madura yang berarti tumpukan. Maksud dari tumpukan ialah pembagian daging dalam 1 tumpukan yang terdiri dari daging, tulang, hati dan lainnya. Awalnya, tompokan hanya bagian dari kegiatan Yasinan dan Sarwa’an, dengan pengumpulan iuran yang berkembang menjadi tradisi kelompok seperti sekarang. Namun sekarang tradisi tersebut sudah bisa ditemukan di wilayah banyuwangi dan bodowoso
Hal ini menjadi solusi bagi setiap masyarakat yang menginginkan daging sapi menjelang lebaran yang selalu naik harganya dengan cara membeli secara patungan bersama












