Musik merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Musik tidak hanya menjadi penghibur namun mewakili suatu kebudayaan untuk dapat mengekspresikan perasaan dan emosi. Gual Huda-Huda menjadi salah satu repertoar musik tradisi yang digunakan dalam upacara adat Sayur Matua yang dimainkan dengan ansambel Gonrang Sipitu-pitu. Sayur Matua adalah upacara adat kematian pada masyarakat Simalungun, yakni dimana seseorang yang telah meninggal dunia dan telah memiliki keturunan lengkap, seluruh anak-anaknya telah menikah dan memiliki cucu atau cicit.
Selain itu Gual Huda-Huda menjadi pengiring tarian Huda-Huda sebagai bentuk penghiburan pada keluarga yang tengah berduka. Gual Huda-Huda berasal dari dua kata yakni Gual dan Huda. Gual yang dimaksud disini ialah suatu komposisi musik atau disebut juga dengan repertoar, komposisi gual tidak memiliki vokal hanya terdiri dari setiap bunyi instrument atau alat musik tradisi Simalungun yang dibawakan oleh gonrang sipitu-pitu . Sedangkan Huda-Huda mengarah pada tarian Huda-Huda atau disebut juga Toping-Toping dimana salah seorang pemainnya mempunyai bentuk dan ekor yang panjang, mirip seekor kuda (bahasa Simalungun disebut Huda).
Seperti yang dijelaskan diatas instrumen yang digunakan dalam musik Gual Huda-Huda adalah instrumen Gonrang Sipitu-pitu. Adapun ansabel Gonrang Sipitu-pitu terdiri dari tujuh buah Gendang, Ogung yakni sepasang gong besar yang terbuat dari logam perunggu, Mongmongan yakni dua buah gong kuningan kecil berdiameter antara 15 hingga 20 cm dengan lebar kerah antara 5 hingga 7 cm dan Sarunei yakni sejenis alat musik tiup dengan baluh (laras) berbahan kayu silastom atau juhar yang merupakan jenis-jenis kayu keras.
Dalam pelaksanaannya Gual Huda-Huda dimainkan oleh laki-laki dewasa yang berjumlah enam hingga tujuh orang. Mulanya pada masa kerajaan Gual Huda-Huda digunakan untuk menghibur raja yang sedih atas meninggalnya sang putra diiringi dengan tarian Huda-Huda hingga raja merasa terhibur namun seiring perkembangannya Gual Huda-Huda mulai merambah pada kalangan masyarakat dan berlanjut hingga sekarang, hanya saja pihak tondong yang sebagai penghibur tidak lagi mengenakan topeng, atau toping-toping dan huda-huda.











