Di tengah gempuran budaya pop global yang kian mengikis identitas lokal, sebuah ruang pertemuan di Museum Huruf Jember mendadak riuh. Ruangan itu menjadi saksi bisu dari sebuah upaya keras: menyuntik mati amnesia budaya yang menjangkiti generasi muda Nusantara.
Melalui Seminar Pekan Aksara dalam rangka memperingati Hari Jadi Museum Huruf ke-9, puluhan mahasiswa, masyarakat umum, dan penggiat aksara berkumpul bukan sekadar untuk bernostalgia, melainkan untuk sebuah urgensi yang menohok kesadaran Nusantara ini kaya, namun generasinya sering kali buta akan sejarahnya sendiri.
Acara dibuka oleh Pak Ade selaku pengelola Museum Huruf, yang menegaskan pentingnya menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan bahasa dan aksara domestik. Mirisnya, banyak anak muda zaman sekarang yang lebih familier dengan abjad asing ketimbang guratan leluhur mereka sendiri.
Padahal, sejarah mencatat Nusantara memiliki garis evolusi literasi yang megah—mulai dari Aksara Pallawa sebagai yang tertua, Aksara Kawi (Jawa Kuno), hingga transformasi epiknya menjadi Aksara Jawa Baru yang kita kenal sebagai Hanacaraka. Ironi ini dikupas tuntas oleh dua pembicara yang kompeten di bidangnya. Mbak Kiki, seorang guru bahasa Jawa di MTsN 7 Jember sekaligus lulusan S2 Magister Aksara, memaparkan struktur Aksara Jawa Baru Honocoroko secara benderang. Paparan tersebut kemudian disambung secara estafet oleh Gaza, seorang penggiat aksara yang fokus menghidupkan kembali Aksara Jawa Kuno (Kawi)—sebuah varian aksara yang kini tak ubahnya teka-teki asing bagi masyarakat awam.
“Saya sangat senang sekali mengikuti acara tersebut. Cukup menarik bagi saya karena membantu membuka ingatan saya kembali akan Aksara Jawa Baru atau Honocoroko yang pernah saya pelajari sampai akhir pendidikan MTS,” aku Udin, salah satu peserta seminar yang hadir. Pernyataan Udin sebenarnya menjadi tamparan halus bagi sistem pendidikan dan kesadaran kolektif kita. Bagaimana bisa warisan budaya adiluhung yang seharusnya melekat dalam identitas sehari-hari, justru berubah menjadi “sesuatu yang harus diingat kembali” seolah-olah itu adalah fosil dari masa lalu? Udin juga menambahkan bahwa acara tahunan seperti ini butuh dukungan penuh support lebih masif ke depannya demi menambah wawasan anak muda yang kian menjauh dari akarnya. Sebagai penutup yang tidak kalah mengejutkan, seminar ini tidak hanya berhenti pada pembahasan teori.
pada momen pekan asara ini turut launching resmi aksara baru sebagai koleksi baru Museum Huruf yaitu aksara dari Pulau Sumatra Aksara Had Lampung.
Pekan Aksara tahun ini mengirimkan pesan kuat dan menohok bagi kita semua Aksara-aksara ini tidak pernah mati karena kehilangan pesonanya. Mereka hampir punah justru karena pemilik sahnya—yaitu kita—memilih untuk melupakannya. Jika bukan anak muda hari ini yang peduli, mau sampai kapan kita membiarkan sejarah bangsa sendiri terkubur di bawah tanah museum?











