Margaretha Geertruida Zelle, yang kemudian dikenal dengan nama panggung Mata Hari, memiliki pengalaman yang mendalam dan penuh warna selama tinggal di Jawa. Ketika ia menikah dengan seorang perwira Belanda bernama Rudolf MacLeod pada tahun 1895, mereka pindah ke Hindia Belanda, yang sekarang dikenal sebagai Indonesia tepatnya di Jawa, hingga budaya jawa sangat memengaruhi kehidupannya, baik secara pribadi maupun profesional.
Selama tinggal di Jawa, Margaretha terpesona oleh budaya lokal yang kaya dan beragam. Ia sangat tertarik dengan tradisi, tari-tarian, dan pakaian khas Jawa. Budaya Jawa yang eksotis dan mistis ini memberikan inspirasi besar bagi Margaretha, terutama dalam pengembangan identitasnya sebagai penari eksotis di kemudian hari.
Margaretha menunjukkan kecintaan dan penghormatannya terhadap budaya Jawa dengan mempelajari tari tradisional Jawa dan mengenakan pakaian adat. Ia belajar berbagai tarian tradisional yang penuh makna dan simbolisme, serta terlibat dalam upacara-upacara dan kegiatan kebudayaan lokal. Pengalaman ini memberinya pemahaman yang mendalam tentang seni dan spiritualitas Jawa, yang kelak menjadi ciri khas dari penampilannya di Eropa.
Ketika Margaretha kembali ke Eropa dan memulai kariernya sebagai penari eksotis dengan nama panggung Mata Hari, ia menggunakan elemen-elemen budaya Jawa untuk menciptakan pesona yang menarik dan misterius. Dia sering mengenakan kostum yang terinspirasi oleh pakaian tradisional Jawa dan menggunakan gerakan tarian yang dipelajarinya di sana. Penampilannya yang eksotis dan unik menarik perhatian penonton Eropa yang haus akan hal-hal baru dan berbeda.
Dengan mengklaim dirinya sebagai putri dari bangsawan Jawa, Margaretha membangun narasi yang mendukung citranya sebagai penari yang eksotis dan mempesona. Meskipun klaim ini lebih banyak merupakan bagian dari strategi pemasaran dan identitas panggung, kecintaan dan pengetahuannya yang mendalam tentang budaya Jawa tidak dapat disangkal.













