Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 menjadi awal lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka, meskipun ancaman penjajahan masih membayangi. Para pemimpin Republik memutuskan membentuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) meski menghadapi berbagai tantangan, baik dari Belanda maupun dari dalam negeri. Salah satu komandan penting dalam TNI adalah Letnan Kolonel Mochammad Sroedji, yang memimpin Brigade III/Damarwulan untuk mempertahankan Besuki, Jawa Timur, dari serangan Belanda dalam Agresi Militer II.
Pertempuran Karang Kedawung di Mumbulsari terjadi ketika Brigade III tiba dan terdeteksi oleh Belanda, yang kemudian mengepung pasukan ini. Pada 8 Februari 1949 pagi, terdengar tembakan, dan Letkol Sroedji memerintahkan Letnan Soebono untuk memastikan asal tembakan. Brigade III pun mendapati diri mereka terkepung oleh Batalion Infanteri XIII KNIL yang dipimpin oleh Letkol J.H.J. Brendgen. Dalam pertempuran sengit tersebut, Letkol Sroedji memimpin pasukannya secara langsung, didampingi Letkol dr. Soebandi, Abdul Syukur (pengawal pribadinya), dan seorang pesuruh.
Ketika kontak senjata terjadi, Letkol Sroedji dan pesuruhnya tertembak; pesuruh tersebut gugur, sementara Letkol Sroedji terluka. Letkol dr. Soebandi dan Abdul Syukur segera mengevakuasi Sroedji, namun dr. Soebandi terkena tembakan dan gugur. Abdul Syukur melaporkan hal ini, dan meski terluka, Letkol Sroedji tetap berjuang dengan pistolnya, berhasil menembak beberapa musuh sebelum akhirnya gugur.
Kesaksian Busrah dan Buyan, anak buah Letkol Sroedji yang selamat, menyebutkan bahwa Letkol Sroedji pertama kali tertembak dari arah timur, mengenai bagian bahu dan dada kirinya. Pelaku yang menembak mati Letkol Sroedji diidentifikasi sebagai Gerard Scheltens dari KNIL, yang kemudian menerima hadiah 10.000 gulden atas keberhasilannya.












