Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dan dinantikan oleh masyarakat Muslim dunia. Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah dan ampunan, sehingga tidak jarang masyarakat muslim menjadikan bulan ini menjadi ladang untuk mencari berkah. Sehingga tidak jarang pula masyarakat muslim tanah air memiliki tradisi sendiri selama bulan Ramadhan, baik dalam menyambut bulan Ramadhan hingga pada penghujung bulan Ramadhan. Salah satu tradisi yang selalu dilakukan adalah tradisi ater–ater atau ter-ater yang dilakukan oleh masyarakat muslim.
Tradisi ater–ater atau ter–ater adalah budaya lokal yang telah lama berkembang di dalam masyarakat Jawa–Madura dan masih dilaksanakan oleh masyarakat hingga sekarang. Kata ter–ater berasal dari kata “ater” yang memiliki arti yaitu mengantar. Ater–ater dalam bahasa Jawa berasal dari kata “agateri” yang memiliki makna mengantar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ater–ater atau ter–ater memiliki persamaan makna dengan punjungan, yang memiliki arti memberikan sebuah hadiah yang berupa makanan kepada seseorang pada saat memiliki hajat. Pengertian tersebut sama dengan pengertian yang dimilki oleh kata ater–ater atau ter–ater yaitu memberikan makanan kepada sanak saudara, tetangga, guru, ataupun orang yang dianggap pantas menerimanya.
Kegiatan ater–ater atau ter–ater merupakan sebuah tradisi yang cukup lama berkembang di masyarakat khususnya Jawa-Madura. Kegiatan memberikan atau mengantar makanan ini sejatinya telah ada pada sejak abad ke – IX menurut kitab Sutasoma dalam Kakawin Ramayana. Istilah ater–ater tersebut juga termuat kedalam beberapa karya sastra abad ke – XI yaitu seperti Udyogaparwa serta susastra-susastra yang lebih muda, yaitu Gatotakacarsaya dan Smaradhana.











